|
Refleksi
|
|
Senin, 08 September 2008 |
|
Oleh: A. Kamil 
Ketika kita berdoa, kandungan doa itu harus bersumber dari kedalaman jiwa dan kehendak hati. Redaksi doa harus membakar jiwa yang beku. Kandungan permohonan harus bergelora, bersemangat dan penuh vitalitas. Doa harus "hidup." Permohonan kepada Tuhan harus memiliki "ruh." Ia harus hidup tidak mati. Berdoa harus bertitik-tolak dari sanubari. Sedemikian sehingga orang yang berdoa laksana didera penyakit yang tak-terobati, sedemikian sehingga laksana karam dalam amukan gelombang, selaksa masalah menghantam dan tiada seorang pun yang membantu. Dalam berdoa singgasana hati dalam kondisi takluk, tunduk dan menyerah, harus dibawa ke haribaan Tuhan. Sehingga terdengar jawaban "labbaik" dari sisi-Nya. Bukankah Dia berfirman: "Serulah Aku, Kupenuhi seruanmu." Sepekan sudah kita melewati bulan suci Ramadhan. Alangkah bahagianya mereka yang mendapatkan taufik untuk "curhat" dengan Allah Swt. Alangkah beruntungnya mereka yang kecipratan cahaya untuk "berdua-duaan" dengan-Nya dalam kesendirian atau keramaian. Alangkah senangnya hati mereka yang menambatkan hajat dan harapan hanya pada-Nya dengan rangkaian doa dan munajat. Semoga di antara mereka yang disebutkan ini termasuk kita salah satunya. Amin. |
|
Read more...
|
|
|
Resonansi Fiqih
|
|
Minggu, 07 September 2008 |
|
Oleh: Ummu 'Aliyain Pada kesempatan kali ini, sebagai pengingat untuk mereka yang sudah mengetahuinya dan info segar bagi mereka yang belum, dalam kolom Resonansi Fiqih hari ini kami akan share beberapa hal yang berkenaan dengan puasa. Seperti jenis puasa yang termasuk wajib, kapan dan puasa jenis apa yang diharamkan bagi kita untuk melakukannya dan terakhir jenis puasa mustahab.
Puasa Wajib 1. Puasa pada bulan Ramadhan 2. Puasa untuk membayar kifarah 3. Puasa qadha.....
|
|
Read more...
|
|
|
Ketaatan sebagai Kemuliaan |
|
Refleksi
|
|
Minggu, 07 September 2008 |
|
Oleh: A. Kamil Kiranya pantas manusia berpikir mengapa Tuhan memerintahkan kepada para hamba-Nya untuk mentaati-Nya dan melarangnya untuk tidak bermaksiat. Mengapa perintah dan larangan terdapat pada firman Tuhan? Mengapa ketaatan kepada-Nya menyebabkan kebahagiaan dan bermaksiat kepada-Nya mendatangkan kemarahan-Nya dan penderitaan manusia. Persoalan ini harus dipahami dengan bersandar pada pengenalan Tuhan dan sifat-sifatnya, dan juga pengenal terhadap tujuan penciptaan dan pengadaan syariat agama. Jawaban global dari pertanyaan ini adalah bahwa perintah dan larangan Ilahi, baik yang wajib, mustahab, haram dan makruh merupakan lintasan kesempurnaan manusia. Faktor-faktor tersebut merupakan faktor penyebab kesempurnaan manusia di pelataran dunia ini. Manusia dengan melewati lintasan tersebut dapat mencapai kesempurnaan dan mentransendental. Dengan demikian manfaat menuruti dan menjauhi, perintah-larangan Tuhan adalah untuk kesempurnaan manusia. Karena Tuhan tidak-membutuhkan dan mahakaya secara mutlak. Dia tidak mengeruk keuntungan dari perbuatan baik kita, dan tidak menderita kerugian dari keburukan kita. Tuhan berdasarkan rahmat dan faidh-Nya yang tak-terbatas, menyediakan seluruh faktor dan jalan untuk mentransendental dan menyempurnanya manusia. Bahkan ketika manusia dengan perbuatan tertentu yang menyebabkan kemurkaan-Nya, Tuhan menyediakan jalan untuk kembali kepada-Nya. |
|
Read more...
|
|
|
Resonansi Fiqih
|
|
Jumat, 05 September 2008 |
|
Oleh: Ummu 'Aliyain Puasa (shaum) secara leksikal bermakna imsak (menahan diri) dan menjauh dari segala sesuatu. Dalam istilah teknis fiqih memiliki pengertian "menahan diri dari dari delapan hal (makan, minum, senggama, berdusta atas nama Tuhan, Rasulullah Saw dan para Imam Maksum As, menenggelamkan seluruh kepala ke dalam air, bertahan dalam keadaan junub, haidh dan nifas hingga azan Subuh, suntikan dengan sesuatu yang cair, muntah, sengaja memasukkan debu atau asap tebal ke dalam tenggorokan) semenjak Subuh hingga Maghrib dengan niat menunaikan perintah Tuhan. Puasa merupakan kewajiban bagi seorang Muslim yang baligh, berakal sehat, tidak haidh, ,tidak nifas, tidak melakukan safar yang menyebabkan shalat disingkat (qashar). |
|
Read more...
|
|
|
Mengingat-Mu Penuh Seluruh |
|
Refleksi
|
|
Jumat, 05 September 2008 |
|
Oleh: A. Kamil Hakikat doa adalah menjalin hubungan intens dengan Tuhan. Bercengkerama dengan-Nya berikut memuja-Nya. Tatkala seorang anak manusia duduk bersimpuh di hadapan realitas tak-terbatas Ilahi, dan menjumpai-Nya sebagai Keindahan dan Kesempurnaan Mutlak, maka dihadapan Keindahan dan Kesempurnaan Mutlak ini ia merasa sangat kerdil. Dalam kekerdilannya, ia memuja, menyembah dan berserah diri pada-Nya. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa doa adalah ibadah. Bahkan ruhnya ibadah. Inti ibadah adalah mengingat-Nya penuh seluruh. Sebaik-baik bentuk ibadah adalah berdoa. Hal ini dapat kita telusuri dari lisan para maksum As, seperti yang dinukil dari Imam Baqir As, "Afdhalul 'Ibâdah ad-Dua." (Mahajjatul Baidha, jil. 2, bab. 2). Di hari keempat bulan suci Ramadhan ini mari kita berdoa kepada Allah Swt untuk dikuatkan dalam memenuhi perintah-Nya, dianugerahi kelezatan mengingat-Nya, diberikan kesempatan untuk bersyukur pada-Nya dan dijaga dalam menunaikan titah-Nya. |
|
Read more...
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 Next > End >>
|
| Results 76 - 90 of 99 |