|
|
|
Idul Ghadir; Hari Raya Terbesar |
|
Kalam
|
|
Selasa, 16 Desember 2008 |
|
Oleh: Ridha Jabbariyan Ahli bahasa beranggapan bahwa derivasi ‘ied adalah dari kata ‘aud. Dan kata ‘aud bermakna kembali. Dengan demikian setiap ied adalah berarti kembali atau mudik. Kembali secara berulang adalah sebuah gerakan setelah melintasi kausa nuzuli dan mulai beranjak naik menuju kausa su’udi. Sebagaimana kita memperingati tahun baru (nuruzz, tahun baru Persia, AK) sebagai saat-saat kembalinya kehidupan kepada tabiat (alam). Sebelum tahun baru kita berhadapan dengan sebuah kehidupan yang terpasung dalam tawanan suasana dingin, dan pada puncak kedinginan musim salju (winter, semiztân) dan bahkan pada batas titik-ketiadaan – hingga seolah-olah tiada – dan kemudian lahir kembali dengan tibanya musim semi dan ibarat melodi yang mengalun naik. Iya, kembalinya kehidupan kepada suasana musim semi ini harus diperingati. Dan hal ini merupakan puncak semangat sebuah maktab yang dipersembahkan kepada dunia materi. Kini apabila alegori (perumpamaan) ini kita aplikasikan pada teks-teks agama dimana seluruh semesta merupakan mukaddimah bagi wujud manusia dan tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah, maka hari raya harus dimeriahkan sebagai hari kembalinya kehidupan maknawi manusia. |
|
Read more...
|
|
|
Peran dan Kedudukan Taqlid dalam Islam |
|
Fiqih
|
|
Selasa, 16 Desember 2008 |
|
Oleh: Ayatullah Misbah Yazdi Apabila terdapat seseorang yang mempunyai ilmu dan keahlian sedangkan yang lainnya tidak memiliki, maka akal dan fitrah manusia akan menetapkan untuk mengikuti orang berilmu (Alim) sesuai dengan bidang keahlian yang di milikinya serta menerima pekataannya, dan seluruh orang-orang berakal (uqala`) di dunia,dari semua suku, bangsa serta para penganut agama-agama dan mazhab, akan menerima bahwa merujuknya seorang Jahil kepada seorang Alim serta mencontoh darinya adalah perbuatan yang rasional dan fitri dan hal ini tidak bisa di ingkari. Atas dasar ini, apabila kita tidak mempunyai ilmu dan keahlian sementara kita butuh dengan ilmu atau spesialisasi tersebut maka kita mendatangi orang-orang yang mempunyai ilmu dan spesialisasi serta mengambil manfaat dari keahlian mereka. Seorang yang sakit secara natural akan mendatangi seorang dokter atau seorang yang ingin membangun rumah dan membutuhkan pola dan desain bangunan, akan mendatangi seorang arsitek bangunan sehingga ia bisa dibuatkan skema bangunan olehnya. Merujuk kepada Ahli dalam setiap spesialisasi serta merujuknya seorang Jahil kepada Alim adalah sesuatu yang rasional dan fitri, oleh karena itu tidak memerlukan petunjuk dan tata cara, misalnya: Orang sakit tidak perlu di paksa mendatangi dokter sebab ia sendiri mengetahui hal itu dan untuk mengobati dirinya tidak ada cara lain kecuali merujuk ke dokter. |
|
Read more...
|
|
|
Memaknai Kembali Sembelihan Idul Qurban |
|
Refleksi
|
|
Senin, 08 Desember 2008 |
|
Oleh: Ismail Amin

Nama lain Idul Qurban, adalah Idul Adha. Adha memiliki makna penyembelihan. Harus ada yang kita sembelih pada hari ini. Bukan persoalan apa kita memiliki harta atau tidak untuk menyembelih. Kita yang termasuk belum memiliki kemampuan untuk menyembelih hewan qurban, sesungguhnya telah diberi kemampuan untuk melakukan prosesi penyembelihan lain, menyembelih ‘kambing’, ’sapi’, maupun ‘hewan ternak’ lain yang berjubelan dan beranak pinak dalam diri kita. Hewan ternak sesungguhnya tamsil dari dominasi hawa nafsu dan syahwat kita. Tamsil segala kesesatan dan keburukan; kebodohan, kedengkian, ketakaburan, buruk sangka, kemalasan, kecintaan pada hal-hal material dan aspek lainnya yang harus kita sembelih dari diri kita. Allah SWT menyebut orang-orang yang buta hati, akal dan pikirannya lebih sesat dari hewan ternak. Pendidikan dan pergaulan yang salah bisa jadi telah merubah kita yang manusia menjadi hewan-hewan ternak tanpa sadar. Jalaluddin Rumi dalam Matsnawi-ye Ma'nawi menafsirkan empat ekor burung yang disembelih dan dicincang oleh nabi Ibrahim as dalam surah Al-Baqarah ayat 260 sebagai empat ekor unggas yang ada dalam diri kita. Keempat ekor unggas itu adalah bebek yang mencerminkan kerakusan, ayam jantan yang melambangkan nafsu, merak yang menggambarkan kesombongan dan gagak yang melukiskan keinginan. |
|
Read more...
|
|
|
Bersama Kafilah Al-Husain dalam Doa Arafah |
|
Cakrawala
|
|
Senin, 08 Desember 2008 |
|
Oleh: Ummu 'Aliyan Doa Arafah merupakan salah satu doa penting yang menjelaskan sisi ritual dan politik ibadah haji. Namun doa ini tidak hanya berlaku bagi mereka yang sementara ini menunaikan ibadah haji. Doa ini dapat dibaca dimana saja dan kapan saja lantaran pelajaran yang terkandung di dalamnya dapat menjadi sumber inspirasi dalam kehidupan. Doa ini merupakan ajakan bergabung dengan kafilah al-Husain, sebagai seorang muwahhid, seorang arif, seorang sahaya, seorang ahli makrifat, seorang pejuang, seorang pemberani, seorang penentang tirani, seorang politisi Ilahiah, seorang penyeru kebebasan dan bla..bla..
Doa Arafah adalah doa multi dimensi. Salah satu dimensinya adalah rajutan komunikasi yang terajalin antara arif dan makruf, antara orang yang mengenal dan dikenal. Disebut doa arafah lantaran doa ini merupakan pengakuan seorang arif kepada makruf. Dalam doa Arafah pengakuan seorang arif tampak jelas dalam ungkapan lirih Imam Husain, "Akulah wahai Tuhanku yang mengakui dosa-dosaku, maka ampunilah aku, akulah yang berbuat kejelekan, akulah yang bersalah, akulah yang menginginkan (maksiat), akulah yang bodoh, akulah yang lalai, akulah yang lupa, akulah yang bersandar (pada-Mu), akulah yang sengaja (berbuat dosa), akulah yang berjanji dan akulah yang mengingkari, akulah yang merusak, akulah yang menetapkan, akulah yang mengakui akan nikmat-Mu atasku, namun aku menghadap-Mu dengan dosa-dosaku. Maka, ampunilah aku. Wahai Dzat yang tidak dirugikan oleh dosa-dosa para hamba-Nya. Ia-lah yang Maha Kaya (dan tidak memerlukan) terhadap ketaatan mereka dan memberikan taufik kepada orang yang beramal salih dari mereka dengan pertolongan dan rahmat-Nya. Maka, bagi-Mu segala puji wahai Tuhanku." |
|
Read more...
|
|
|
Mengenal Sang Pemimpin
|
|
Minggu, 07 Desember 2008 |
|
Oleh: Imam Khamenei "Dengan penuh keyakinan, saya tegaskan bahwa ini masih awal perubahan. Namun, wujud sempurna dari janji Allah ialah unggulnya kebenaran di atas kebatilan, dan kebangkitan umat Al-Quran serta peradaban baru Islam sedang dalam proses. "Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan berkuasa orang-orang sebelum mereka, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka menjadi aman sentausa sesudah mereka dalam ketakutan; mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik" (Al-Nuur: 55).Tanda dari janji yang pasti terwujud ini, pada tahap pertama dan terpenting, ialah kemenangan Revolusi Islam di Iran dan bangunan menjulang negara Islam yang telah mengubah Iran menjadi basis yang kokoh untuk pemikiran kedaulatan dan peradaban Islam." |
|
Read more...
|
|
| | << Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 Next > End >>
| | Results 46 - 60 of 99 |
|
Statistics
Members: 150
News: 123
Web Links: 5
Visitors: 359877
Who's Online
We have 5 guests online
|