Advertisement
Kalam
Imam Husain As dalam Pandangan Ahlusunnah PDF Print E-mail
Kamis, 01 Januari 2009

Oleh: Ali Asghar Ridwani

Sample ImageDengan sedikit merenungi perkataan Rasul Saw ini, maka kita akan bisa mengetahui bahwa kalimat pertama mengisyarahkan pada poin bahwa sesungguhnya Husain As berasal dari Rasulullah Saw, karena meskipun ayahnya adalah Imam Ali As akan tetapi karena berdasarkan nash ayat Mubahalah beliau merupakan jiwa Rasulullah Saw, maka Imam Husain As tergolong sebagai putra Rasulullah Saw.

Sedangkan mengenai kalimat kedua, kami mengatakan bahwa setelah menyampaikan risalahnya, Rasulullah Saw tidak lagi bertindak sebagai sosok secara pribadi melainkan bertindak sebagai sosok penyampai risalah. Beliau merupakan rahasia dan teladan dimana padanyalah risalah terwujud dengan seluruh dimensinya. Dengan demikian berarti, kehidupannya tak lain adalah risalahnya dan risalahnya tak lain adalah kehidupannya.

Dari sisi lainnya, kita mengetahui bahwa usaha setiap ayah adalah memiliki keturunan yang akan menjadi pelanjut generasi dan menjadi penjaga risalah serta penerus jalannya. Dalam kaitannya dengan Imam Husain As, karena beliau menghidupkan risalah Rasulullah Saw dengan kebangkitan, revolusi dan kesyahidannya, maka Rasulullah Saw          dalam kedudukannya bersabda, "Aku berasal dari Husain", dengan artian bahwa pribadiku, risalahku dan kelanjutan risalahku bergantung pada wujud dan keberadaan Husain As. Oleh karena itulah sehingga dikatakan Islam diciptakan oleh Muhammad saw dan dilanjutkan oleh Husain As.

Read more...
 
Selangit Keutamaan Baginda Ali PDF Print E-mail
Selasa, 16 Desember 2008

 Oleh: A. Kamil

 

Sample ImageHari ini adalah hari yang bertepatan dengan hari penyematan Ali bin Abi Thalib As sebagai khalifah dan wali kaum Muslimin oleh Rasulullah. Hari dimana Allah Swt menyempurnakan agama Islam dengan pengangkatan Amirul Mukminin As sebagai pelanjut risalah nubuwah. Risalah nubuwwah berakhir dan dilanjutkan dengan risalah imamah yang diemban oleh Imam Ali As secara resmi dideklarasikan oleh Rasulullah Saw di hari ini. Risalah imamah yang berlanjut terus hingga hari Kiamat dan Imam Mahdi sebagai pengemban risalah pamungkas dari risalah imamah ini. Iya, hari itu adalah 18 Dzulhijjah empat belas abad yang lalu, yang dihadiri kurang lebih 124.000 sahabat Rasulullah. Hari itu merupakan hari paling menentukan dalam sejarah Islam dan kaum Muslimin. Hari itu adalah hari Ghadir Khum.

Hari Ghadir Khum bukan sekedar sebuah peristiwa sejarah biasa yang harus tercantum dalam agenda hari-hari besar Islam. Hari Ghadir Khum merupakan hari kelanjutan risalah nubuwwah. Hari penentuan nasib umat manusia setelah deklarasi bahwa tiada akan lagi nabi diutus. Hari ini adalah hari imamah dan hari wilayah.  Hari Ghadir Khum bukan sekedar sebuah peristiwa yang diperingati setiap tahun oleh mazhab Syiah (ansich). Hari Ghadir Khum adalah hari kesempurnaan agama dan kebahagiaan manusia. Ghadir Khum adalah hari penetapan kepemimpinan Ilahi atas umat manusia. Ghadir Khum tidak mewariskan kesultanan, kerajaan dan aristokrasi. Ghadir Khum adalah penegasan kebutuhan manusia terhadap seorang pemimpin Ilahi yang mengawal dan membimbing manusia mendaki kesempurnaan insaniah.

Last Updated ( Rabu, 17 Desember 2008 )
Read more...
 
Idul Ghadir; Hari Raya Terbesar PDF Print E-mail
Selasa, 16 Desember 2008

Oleh: Ridha Jabbariyan

 

Sample ImageAhli bahasa beranggapan bahwa derivasi ‘ied adalah dari kata ‘aud. Dan kata ‘aud bermakna kembali. Dengan demikian setiap ied adalah berarti kembali atau mudik.  Kembali secara berulang adalah sebuah gerakan setelah melintasi kausa nuzuli dan mulai beranjak naik menuju kausa su’udi. Sebagaimana kita memperingati tahun baru (nuruzz, tahun baru Persia, AK) sebagai saat-saat kembalinya kehidupan kepada tabiat (alam). Sebelum tahun baru kita berhadapan dengan sebuah kehidupan yang terpasung dalam tawanan suasana dingin, dan pada puncak kedinginan musim salju (winter, semiztân) dan bahkan pada batas titik-ketiadaan – hingga seolah-olah tiada – dan kemudian lahir kembali dengan tibanya musim semi dan ibarat melodi yang mengalun naik. Iya, kembalinya kehidupan kepada suasana musim semi ini harus diperingati. Dan hal ini merupakan puncak semangat sebuah maktab yang dipersembahkan kepada dunia materi. Kini apabila alegori (perumpamaan) ini kita aplikasikan pada teks-teks agama dimana seluruh semesta merupakan mukaddimah bagi wujud manusia dan tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah, maka hari raya harus dimeriahkan sebagai hari kembalinya kehidupan maknawi manusia.

Last Updated ( Rabu, 17 Desember 2008 )
Read more...
 
Imamah dan Ahlulbait PDF Print E-mail
Sabtu, 15 November 2008

Oleh: Ismail Amin

 

Sample ImageAkidah Islamiyah adalah kumpulan kaidah, hukum, landasan, perintah, larangan dan pengetahuan yang universal dan terperinci yang diturunkan Allah Swt kepada hamba-Nya, Muhammad Saw. Rasululullah Saw bertugas memberikan penjelasan kepada umat mausia melalui perantara dakwah dan daulah yang dipimpinnya sendiri. Oleh karena itu setiap perkataan, perbuatan dan taqrir Rasulullah Saw adalah juga aturan Ilahi sebagai pelengkap Al-Qur’an. Semasa hidupnya, Rasulullah menjadi satu-satunya sumber rujukan syar’i yang merupakan pengejewantahan akidah Ilahiah. Adalah mustahil jika aqidah yang berasal dari Allah ini dibiarkan tanpa seorang rujukan yang bertugas menjelaskan aqidah tersebut. Sumber rujukan ini haruslah orang yang memiliki pengetahuan Ilahiah, paling baik, afdhal dan tepat dari sekian manusia yang ada. Untuk memilih dan mengangkat orang yang memiliki kapasitas itu, hanya Allah sendirilah yang berhak menentukan. Sejarah perjalanan manusiapun membuktikan, semua nabi-nabi yang 124 ribu jumlahnya diutus dan diangkat oleh Allah Swt. Tak sekalipun Allah Swt menyerahkan penentuan dan pemilihan orang yang menjadi sumber rujukan kepada hawa nafsu dan pendapat-pendapat manusia. Begitulah sejarah membuktikan, dan tidak ada seorangpun yang menyelisihi ini.

Last Updated ( Sabtu, 15 November 2008 )
Read more...
 
Merajut Dialog dengan Asy'ariah dan Mu'tazilah PDF Print E-mail
Jumat, 09 Mei 2008

Oleh: A. Kamil

Dialog interfaith dan intrafaith merupakan dialog yang harus intens dikembangkan pada setiap pemeluk kepercayaan. Keyakinan yang dianut oleh sebuah agama atau mazhab untuk mampu berjajal dengan realitas harus dikomunikasikan dan diekspresikan pada bursa ideologi. Karena ketika keyakinan atau kredo itu dipandang sebagai sebuah pilihan, setelah melakukan penelusuran dengan menggunakan piranti akal dan nurani, ia harus dipandang sebagai sebuah kebenaran yang menyediakan lahan bagi para pemeluknya untuk melesak meraih kesempurnaan insani dan kebahagiaan hakiki. Karena mencapai dan meraup kesempurnaan merupakan tuntutan fitrah manusia, apapun agamanya. Islam yang merupakan sebuah agama samawi semenjak kemunculannya menyambut dawuh dialog interfaith dan intrafaith ini. Islam yang diyakini oleh para pemeluknya tidak terkecuali harus turut dikomunikasi dan diekspresikan. Mengingat keyakinan kepada sesuatu berpotensi membahagiakan sekaligus menelantarkan. Namun bagaimana menemukan formula dan teraju untuk menjamin bahwa keyakinan tersebut merupakan sebuah keyakinan yang 100 % mengandung kebenaran dan tak lekang oleh panas serta tak lapuk oleh hujan. Artinya ia harus kokoh dengan argumen-argumen rasional dan filosofikal, dalam berjajal dengan agama-agama lainnya. Dalam hal ini, Islam menantang setiap agama-agama untuk menyodorkan argumen dengan nada “Qul Haatu Burhanakum inkuntum Shadiqin.” Sodorkan argumenmu sekiranya engkau merupakan orang yang benar.” 

Last Updated ( Jumat, 06 Juni 2008 )
Read more...