|
Korelasi antara Ketakwaan dan Santapan Kita |
|
Refleksi
|
|
Jumat, 16 Juli 2010 |
|
Oleh: Ismail Amin “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Qs. Ali-Imran: 102).
Penggalan firman suci ini bukan sesuatu yang asing lagi kita dengar, hampir setiap da’i dan muballigh kita sebelum memulai nasehat-nasehat keagamaannya lebih lanjut sering mengawalinya dengan berpesan dan mengingatkan dalam hal ketakwaan. Bahkan dalam kehidupan seharian dengan mudah kita menemukan kata-kata takwa; dalam butir-butir Pancasila, dalam spanduk-spanduk pesan kemasyarakatan, dalam butiran misi lembaga-lembaga pendidikan dan dalam setiap pasal persyaratan untuk menjadi pemimpin atau menduduki jabatan dalam sebuah organisasi atau lembaga pemerintahan dan dalam butiran nasehat orang-orang tua kita. Namun dengan sedemikian akrabnya kita dengan idiom ‘takwa’ ini, apakah kita telah menemukan orang yang benar-benar bertakwa? Seberapa gigihkah kita untuk menjadi insan yang bertakwa? Atau kita perlu mengajukan pertanyaan, sedemikian pentingkah ketakwaan itu?. |
|
Read more...
|
|
|
Merajut Persatuan dengan Ukhuwah |
|
Jagad Islam
|
|
Minggu, 30 Mei 2010 |
|
Oleh: Ismail Amin “... Orang-orang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain.” (Qs. Al-Taubah [9]:71). Puji syukur atas kebesaran dan keagungan Ilahi, atas karunia keimanan yang Dia masukkan kedalam setiap hati kita, sehingga semoga kita termasuk sebenar-benarnya orang beriman, yang bersaksi atas keesaan-Nya dan bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Salam dan shalawat semoga tetap tercurah atas semua nabi-Nya, orang-orang shalih yang dicinta-Nya, para syuhada yang diagungkan-Nya serta keluarga nabi yang disucikan-Nya dan sahabat-sahabat setia nabi yang diridhai-Nya. Di kekinian, kita melihat kondisi kaum muslimin yang sebagaimana telah dinubuatkan nabi dalam salah satu sabdanya, bahwa kaum muslimin kelak jumlahnya sangat banyak, namun ibarat buih di lautan yang terombang-ambing, yang bergerak kemanapun ombak dan angin membawanya, yang bagaikan makanan di dalam nampan yang diperebutkan oleh musuh-musuhnya. Menurut hemat saya, salah satu penyebabnya adalah hati-hati kaum muslimin yang terpecah belah. Kaum muslimin saat ini seperti kita melihat hutan dari kejauhan. Sejauh mata memandang yang tampak hanyalah hijau rimba raya. Padahal bila didekati bebukitan yang sudah gundul terbakar, tebing yang longsor, pohon-pohon tumbang ditebang penduduk untuk kayu bakar, atau sungai yang dicemari bungkus plastik mie instant dan puntung rokok. Lihat saja, setiap kelompok Islam masing-masing bangga dengan apa yang dilakukannya. Dakwah yang seyogyanya lillahi ta'ala tercemari niat-niat lain, persaingan antar kelompok, perasaan lebih unggul sembari mengutuk dan mencela kelompok yang berseberangan. Sementara bendera dan panji-panji yang diperjuangkan sama, semuanya menginginkan bendera tauhid berkibar dimana-mana. |
|
Read more...
|
|
|
Bersama Kafilah Al-Husain di Padang Arafah |
|
Refleksi
|
|
Senin, 03 Mei 2010 |
|
Oleh: Zinat Badri Do’a Arafah merupakan salah satu do’a penting yang menjelaskan sisi ritual dan politik ibadah haji. Do’a ini tidak hanya berlaku bagi mereka yang sementara menunaikan ibadah haji, namun juga dapat dibaca kapan dan dimana saja lantaran pelajaran yang terkandung di dalamnya dapat menjadi sumber inspirasi dalam kehidupan. Do’a ini merupakan ajakan bergabung dengan kafilah al-Husain, sebagai seorang muwahhid, arif, sahaya, ahli makrifat, pejuang, pemberani, penentang tirani, politisi Ilahiah, dan sebagai penyeru kebebasan. Do’a Arafah adalah do’a multi dimensi. Salah satu dimensinya adalah rajutan komunikasi yang terajalin antara arif dan makruf, antara orang yang mengenal dan dikenal. Disebut do’a arafah lantaran do’a ini merupakan pengakuan seorang arif kepada makruf. Dalam do’a Arafah pengakuan seorang arif tampak jelas dalam ungkapan lirih Imam Husain, "Akulah wahai Tuhanku yang mengakui dosa-dosaku, maka ampunilah aku, akulah yang berbuat kejelekan, akulah yang bersalah, akulah yang menginginkan (maksiat), akulah yang bodoh, akulah yang lalai, akulah yang lupa, akulah yang bersandar (pada-Mu), akulah yang sengaja (berbuat dosa), akulah yang berjanji dan akulah yang mengingkari, akulah yang merusak, akulah yang menetapkan, akulah yang mengakui akan nikmat-Mu atasku, namun aku menghadap-Mu dengan dosa-dosaku. Maka, ampunilah aku. Wahai Dzat yang tidak dirugikan oleh dosa-dosa para hamba-Nya. Ia-lah yang Maha Kaya (dan tidak memerlukan) terhadap ketaatan mereka dan memberikan taufik kepada orang yang beramal salih dari mereka dengan pertolongan dan rahmat-Nya. Maka, bagi-Mu segala puji wahai Tuhanku." |
|
Read more...
|
|
|
Banyak-banyaklah Mengingat Allah |
|
Refleksi
|
|
Kamis, 01 April 2010 |
|
Oleh; Ismail Amin “Barang siapa yang berpaling dari mengingat Tuhan Yang Maha Pemurah, Kami kuasakan atasnya setan (yang menyesatkan), lalu setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (Qs. Az-Zukhruf: 36). Dari ayat suci ini jelas dan terang, bahwa untuk tidak terjebak pada penguasaan syaitan maka kita tidak boleh lalai apalagi berpaling dari mengingat Allah SWT. Keutamaan mengingat Allah bukan sekedar agar terhindar dan terlepas dari godaan dan gangguan syaitan, namun lebih dari itu, mengingat Allah adalah ibadah yang lebih besar keutamaannya dibanding ibadah-ibadah yang lain. Allah SWT berfirman, “…dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain).” (Qs. Al-Ankabut: 45). Dikatakan mengingat Allah (dzikrullah) lebih besar keutamaannya karena pada hakikatnya setiap ibadah yang dilakukan (shalat, zakat, puasa, naik haji, jihad, ‘amar ma’ruf nahi munkar dan lain-lain) adalah dalam rangka semata-mata untuk mengingat Allah. Ayatullah Husain Mazhahiri dalam kitabnya Jihad an-Nafs menafsirkan firman Allah SWT, “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (Qs. Thaha: 41) dengan mengartikan, “Tidak ada Tuhan yang memberikan pengaruh di alam wujud selain Aku, dan wajib atas kamu beribadah kepada-Ku dengan tujuan mengingat Aku, yang merupakan sebesar-besarnya kewajiban.” |
|
Read more...
|
|
|