Refleksi, 8 Desember 2005
Pesan Imam Khomeini kepada Gorbachev
'Asyiq-e Vilayat
Gorbachev, Pemimpin terakhir Uni Soviet, telah melakukan beberapa perubahan dan reformasi dalam dunia Komunisme. Tetapi, para analis politik dan pemimpin Barat menyangsikan dan pesimis tentang reformasi yang dimaksud.
Tidak satu pun yang percaya bahwa perubahan yang terjadi akan mencerabut sistem tua Komunisme ateistik dalam negara (eks) Uni Soviet. Paling banter yang diduga akan terjadi pada saat itu adalah pemimpin-pemimpin Kremlin boleh jadi mengabaikan beberapa jaringan langsung antara negara-negara anggota blok Timur dan (eks) Uni Soviet.
Hal ini dilakukan dengan maksud untuk mengurangi kesulitan-kesulitan internal dalam bidang ekonomi dan membangun sebuah tatanan baru dari kamp komunis dengan membatasi kepemimpinan Soviet dan lebih undertakings oleh satelite (eks) Soviet sendiri. Akan tetapi, Imam Khomeini dengan ketajaman basirah (visi)-nya yang tidak dapat dipahami oleh para analis materialis, menulis surat bertanggal 11 Dei 1368 (1 November 1989) kepada Gorbachev. Imam menulis dalam surat itu: " sekarang dan seterusnya Marxisme harus dibicarakan di dalam museum-museum sejarah politik dunia."
Dalam surat itu, Imam Khomeini mengemukakan analis dan perubahan yang terdalam yang terjadi di Uni Soviet dan ia mengungkapkan apa yang terjadi dengan sebutan "Suara yang menghancurkan tulang-tulang Marxisme". Dan yang sangat mengherankan adalah bahwa surat tersebut berisi berita lain yang bernada peringatan yang menunjukkan betapa Imam mengetahui percaturan politik dunia. Imam Khomeini menjelaskan dengan gamblang akan kemungkinan tenggelamnya Rusia dalam arus tipuan kaum kapitalis Barat dan kemudian mereka akan tunduk dengan apa yang diinginkan Amerika.
Imam Khomeini mengajak Gorbachev untuk mendekat kepada Tuhan dan agama, dan tidak menaruh harapan kepada Materialisme Barat. Imam merincinya, “Problem asasi negara Tuan bukanlah masalah kepemilikan, ekonomi dan kebebasan. Problem asasi Anda adalah kurangnya keyakinan yang benar kepada Tuhan; problem yang sama akan menggiring dunia Barat kepada keadaan tanpa nilai dan kebuntuan.
Sayangnya, para pemimpin Rusia tidak menganggap serius peringatan-peringatan dan nasihat-nasihat Imam ini. Korporasi-korporasi Eropa dan Amerika telah menjadikan Rusia sebagai objek permainan ekonomi mereka dan menciptakan suatu gaya kolonial baru, yang akan membawa prospek masa depan kepada kesuraman dan kebuntuan, kecuali rakyat negara ini terjaga!
Menarik untuk diperhatikan bahwa tatkala pengiriman jawaban Gorbachev atas surat Imam Khoemini, Shevardnadze, Menteri Luar Negeri Soviet terperanjat melihat bahwa orang yang memberikan peringatan dan pesan kepada negara yang memiliki kekuatan nuklir nomor dua di dunia, duduk dalam sebuah kamar berukuran 3x4 dari sebuah rumah hunian di Jamaran, dengan segala kebersahajaan dan tanpa sambutan seremonial sebagaimana lazimnya, dan tenang dan setegar gunung dengan sebuah al-Qur’an, karpet salat, tasbih di sampingnya serta beberapa surat kabar dan sebuah radio kecil. Keterkejutan Shevardnadze bertambah kala dia memperhatikan bahwa di sekelilingnya tidak tersedia kursi kayu lainnya untuknya dan untuk para petinggi Rusia yang menyertainya, dan terpaksa harus duduk di atas lantai untuk pertama kalinya. Tatkala seorang tua Mukmin yang menjadi pelayan ketika itu, satu-satunya layanan resepsi penting ini adalah segelas teh dan dua butir gula kream kepada Shevardnadze, Menteri Luar Negeri Kutub Timur dunia. Boleh jadi Shevardnadze berpikir bahwa semua ini tidak lazim dan disengaja. Tetapi kenyataannya tidaklah demikian. Selama masa hidupnya, entah sendiri, dalam pengasingan, selama masa kepemimpinan politik dan agamanya, hingga masa-masa akhir hayatnya, Imam Khomeini tidak meningggalkan kebiasaannya hidup sederhana, dan tidak pernah berpikir untuk merubah gaya hidupnya walau berhadapan dengan orang yang memiliki kedudukan tinggi duniawi.
Semakin menambah keheranan ketika diketahui bahwa tidak ada kursi lain yang dapat diduduki oleh pejabat tinggi yang menyertainya dan ia harus duduk di atas tanah—meskipun Cuma sekali! Dan barangkali menteri luar negeri Soviet mengira bahwa gelas teh dengan gula batu—yang diberikan oleh orang tua yang berkhidmat kepada Imam—adalah hal yang disengaja dan pengecualian. Namun hakikatnya tidak demikian, Imam tidak pernah mengubah gaya hidupnya yang sederhana dalam seluruh perjalanan hidupnya, baik ketika Imam sendiri dan terasing maupun ketika ia memegang tampuk kepemimpinan agama dan politik, bahkan sampai akhir masa hidupnya. Imam tidak mengizinkan gaya hidupnya ini di hadapan kedudukan dunia yang fana, meskipun tampak megah dan besar.[]