Kognisi Diri; Tangga Mendaki Kesempurnaan
Ruhullah Syam[1]
Dalam suatu hadits suci Rasulullah Saw bersabda:
ãä ÚÑÝ äÝÓå ÝÞÏ ÚÑÝ ÑÈå
"Barang siapa mengenal dirinya ia mengenal Tuhannya"
Dan dalam hadits lain Amirul Mukminin Ali As bersabda:
ãä ÚÑÝ äÝÓå ÝÞÏ ÇäÊåí ÇÊí ÛÇíå ßá ãÚÑ Ýå æ ßá Úáã
Barang siapa mengenal dirinya maka ia sampai pada akhir dan tujuan seluruh makrifat (kognisi) dan seluruh ilmu
Mengenal diri langkah awal memperbaiki diri. Mengenal diri langkah mengenal Tuhan. Siapa mengenal Tuhan niscaya ia akan mengenal fenomena makhluk dan fenomena eksistensi, sebab semua itu adalah manifestasi dan theophany-Nya.
Manusia sebagai eksistensi misterius dan kompleks menjadi obyek bahasan dan penelitian berbagai disiplin ilmu, seperti: Sosiologi, Psikologi, Anthropologi, Biologi, Kedokteran, Filsafat, Akhlak dan ilmu-ilmu lainnya. Masing-masing dari disiplin ilmu ini berusaha mengkaji dan membahas fenomena dan dimensi yang ada pada wujud manusia.
Ilmu Kedokteran misalnya meneliti raga dan tubuh manusia ditinjau dari perspektif sehat dan sakit, sementara psikologi menangani masalah kejiwaan (psyche) manusia ditilik dari angle adanya gangguan jiwa atau tidak. Kedua disiplin ilmu ini secara epistemologi lebih bersandarkan pada eksperimen dan laboratorium.
Berbeda dengan ilmu Akhlak dan Irfan (tasawuf), manusia dalam konteks ini dibahas sebagai maujud yang memiliki iradah (kehendak) dan ikhtiyar (pilihan) yang harus berusaha mensucikan dan membersihkan dirinya baik secara pikiran (teoritis) maupun secara terapi (praktis) demi mencapai derajat insan kamil dan kebahagiaan hakiki. Dan manusia dalam hal ini dianggap sebagai maujud dan eksistensi yang mampu menerima keparipurnaan itu.
Adapun kesempurnaan diri tersebut hanya bisa dicapai apabila manusia sanggup meng-upgrade gradasi wujud jiwanya (nafs), sebab kemanusiaan manusia ditentukan oleh jiwanya (nafs), sebagaimana esensialitas segala sesuatu adalah surah-nya (form) "syaiyyatu syai suratuhu". Sebaliknya apabila manusia mendegradasikan dirinya dalam kekurangan dan kerendahan materi badan, dengan kata lain mengabaikan jiwanya, maka dia tidak akan lebih baik daripada hewan yang tidak mempunyai akal teoritis dan praktis. Karena itu manusia sebagai hewan nâtiq (punya rasio dan logika) yang punya kelebihan dibanding dari hewan-hewan lainnya harus senantiasa memelihara, menjaga, dan menyempurnakan rasionalitasnya, serta tidak membiarkan hawa nafsu mempengaruhi, menjerat, membelenggu, dan menguasai rasio (nâtiq) tersebut. Oleh sebab itu ketika manusia kehilangan kendali rasio dan logikanya, artinya gradasi wujudnya menurun dan terdegradasi, maka ia mungkin saja akan terjerembab sebagai maujud manusia yang meringkik, mengembik, berbisa, pemakan bangkai dan kotoran, pemangsa, dan sifat-sifat hewani rendah lainnya.
Dalam suatu riwayat dinukilkan bahwa seorang sahabat Imam Ja'far Shadiq As bernama Abu Bashir yang tuna-netra berkata pada beliau: Alangkah banyaknya yang menunaikan ibadah haji pada tahun ini, Imam kemudian mengusap mata sahabatnya tersebut, maka terbukalah pandangan hakikat dan maknawi baginya dimana ia menyaksikan orang-orang yang tawaf di sekeliling Ka'bah kebanyakan berkepala binatang. Inilah contoh hakikat batin (esoteris) kebanyakan manusia.
Dalam sejarah manusia kita mengetahui adanya dua kelompok manusia yang menjadi pengikut dua fenomena dalam jagad realitas.Yakni pengikut akal natiq dan pengikut hawa nafsu. Kita mendapatkan kisah klasik Qabil berhadapan dengan Habil, Nabi Musa As berjajal dengan Fir'aun, Nabi Ibrahim As vis á vis Namrud, junjungan kita Nabi Muhammad Saw berhadapan dengan Abu Lahab, Abu Jahal, dan Abu Sofyan, Imam Ali As berkonfrontasi dengan Muawiyah, Imam Husain As berperang melawan Yazid, serta pengikut dan pengusung akal natiq lainnya berhadapan dengan pengikut dan pengusung hawa nafsu.
Imam Ali As bersabda:
ØæÈí áãä ÚÕí ÝÑÚæä åæÇå æ Ç ØÇÚ ãæÓí ÊÞæÇå (Ç æ ÚÞáå)
Artinya: "Berbahagialah bagi orang yang menentang Fir'aun hawa nafsunya dan menaati Musa akal dan taqwanya"
Pada prinsipnya Amirul mukminin dalam hal ini mengisyaratkan setiap orang di dalam batin dan alam shagir-nya (mikrokosmos) mempunyai Musa akal dan Fir'aun hawa nafsu.
Allah Swt berfirman: "Maka Dia mengilhamkan potensi fujur dan taqwa pada jiwa. Dan beruntung orang-orang yang mensucikannya, dan merugi orang-orang yang mengotorinya". (Qs. asy-Syams [91]: 6 – 8)
Sebab itu jika manusia menginginkan peringkat kesempurnaan Musa As, tidak ada pilihan lain baginya harus menentang dan memerangi Fir'aun hawa nafsu dalam dirinya, dan apabila ini tidak diaktualisasikan, lantaran Fir'aun karam di laut dan binasa, maka manusia model seperti ini pun akan terpuruk dan karam dalam kebinasaan sebagaimana Fir'aun. Tapi sebaliknya jika manusia menaati musa akal dan beriman, maka dia akan mendapatkan rahmat dari Tuhan dan salam dariNya.
Allah berfirman: "Salam atas Musa dan Harun, sesungguhnya keduanya dari hamba-hamba kami yang mukmin. (Qs. as-Shaffat [37]:121 & 123)
Jadi dalam konteks ini, manusia yang mentaati Musa, Ibrahim, dan Isa merupakan akal, rasio dan natiq, serta melawan Fir'aun dan Namrud hawa nafsu yang ada pada jiwanya, maka setapak demi setapak, selangkah demi selangkah akan meraih rahmat dan keberkahan dari Tuhan untuk mencicipi nikmat maknawi alam malakut dan jabarut, serta akan menyaksikan jamâl dan jalâl Tuhan (mukâsyafah dan wusul). Semoga.[]
[1]. Penulis adalah pelajar Program Master, jurusan Filsafat & Irfan, Seminary Imam Khomeini Ra, Qum.