Jejak, 2/8/2006
Dian Yang Senantiasa Cerlang
(Ayatullah Sayid Muhammad Hujjat Ra)

Wiladah (Kelahiran)
Ayatullah Sayyid Muhammad Hujjat Ra dilahirkan di kota Tabriz pada bulan Sya’ban tahun 1310 HQ dari keluarga terkenal dan terhormat dengan keutamaan dan ilmu.
Tahshilat (Studi)
Ayatullah Hujjat Ra merampungkan pelajaran-pelajaran tingkat ibtida’iyah-nya pada ayahnya sendiri yang alim dan bersahaja, kemudian ia meneruskan pelajaran agama dan Adabiyat Arab pada ulama besar Tabriz lainnya. Lalu pada tahun 1320 HQ diusianya yang ke-20, Ayatullah Hujjat bertolak menuju kota Najaf Asyraf, Irak. Ia belajar Fiqih kepada Almarhum Hadrat Ayatullah Sayyid Kazhim Yazdi, Ilmu Rijal dan Hadist belajar kepada Almarhum Hadrat Ayatullah Sayyid Abu Turab Khurasani. Dengan keseriusan dan ketekunan pada pelajaran-pelajaran tingkat tinggi, beliau belajar juga pada Armarhum Ayatullah Syariat Isfahani (Syaikh Syariah) dan Almarhum Mirza’i Na’ini dan Almarhum Sayyid Muhammad Firuj Abadi dan Almarhum Aqa-e Dyaudin Iraqi dan Almarhum Syeikh Ali Ghunabadi. Dalam waktu yang relatif singkat beliau dapat mencapai pada derajat tinggi Ijtihad.
Sayangnya, pada waktu itu Ia terkena sakit. Atas saran dan nasehat ayah tercintanya, terpaksa meninggalkan kota Najaf Asyraf, Irak. Akhirnya, pada tahun 1335 HQ Ayattulah Hujjat kembali ke Tabriz. Bersamaan dengan itu guru-guru beliau (Almarhum Sayyid Muhammad Kazhim Yazdi dan Almarhum Syariat Isfahani) meninggal dunia. Setelah itu, Ia berusaha kembali lagi ke kota Najaf-Asyraf dan menghadiri pelajaran-pelajaran tingkat tinggi hauzah pada guru-guru besar pada waktu itu. Akan tetapi, disebabkan situasi dan kondisi yang kurang baik, secara terpaksa beliau meninggalkan kota Najaf Asyraf, Irak tersebut.
Datang ke Kota Suci Qom
Setelah berkali-kali beliau berobat, akhirnya kondisi Ayatullah Hujjat makin membaik, walaupun belum sembuh total, sehingga beliau datang ke Iran. Pada tahun 1349 HQ secara resmi beliau menetap dan tinggal di Qom. Beliau hadir dengan penuh penghormatan dalam pelajaran Fiqh dan Ushulnya Almarhum Ayattullah Hajj Syeikh Abdul Karim Khairi, pendiri Hauzah Ilmiyah Qom- dan banyak sekali murid-murid pilihan yang belajar kepadanya. Ayatullah Hujjat mendapatkan penghargaan khusus darinya. Bahkan Ayatullah Hairi, memberikan wewenang untuk menggantikannya sebagai imam jama’ah di pelataran suci Hadrat Fatimah Ma’sumah salamullahi alaiha. Di akhir hayatnya, Ayatullah Hujjat adalah salah satu dari dua orang wakil Ayatullah Hairi.
Perlawan Terhadap Para Penentang Hijab
Setelah meninggalnya pendiri hauzah Ilmiah Qom, yakni Ayatullah Hairi, Ia diserahi tanggung jawab untuk mengelola dan mengembangkan hauzah tersebut bersama dua orang teman terbaiknya. Ayatullah Hujjat dan teman-teman seperjuangan lainnya berusaha untuk menjaga tatanan hauzah dari para penentang syar’i yang pada masa itu rezim yang berkuasa dan musuh-musuh Islam. Dalam sebuah teks terbaiknya berupa kiriman telegraf kepada Almarhum Ayatullah Bahbahani di Tehran tentang masalah hijab, berkata;
“Bismillahirrahmannirrahim, dengan kemuliaan dan ketinggian yang mulia, saya sampaikan kepada yang terhormat; Sangat pantas kiranya saya, menyampaikan kepada para pelaksana urusan negara untuk memberikan peringatan bahwa di Negara Islam, perkara yang bertentangan dengan syariat yang suci dan kokoh, harus ditinggalkan pelaksanaannya karena akan menghasilkan kerusakan dan kehancuran.”
“ Atas usaha tuan yang mulia saya mengucapkan terima kasih.”
Hamba yang faqir.
Ayatullah Hujjat.
Para Pakar Ijtihad dan Riwayat
Almarhum Ayatullah Hujjat, dari para Ayatullah yang mulia seperti; Almarhum Syeikh Fathullah Syariati Isfahani (meninggal 1339 HQ), Hajj Mirza Husein Na’ibi (meninggal 1355 HQ), Ogho Dayau’din Iraqi (1361 HQ), Sayyid Muhammad Diruzi Abadi (meninggal 1351 HQ), Sayyid Abu Turab Khurasani (meninggal 1346 HQ), Syeikh Muhammad Baqir bin Jandi (meninggal 1352 HQ) dan orang tua beliau (1360 HQ), mendapatkan wewenang dan hak dalam hal periwayatan.
Murid-muridnya
Murid-murid Ayatullah Hujjat banyak sekali jumlahnya, salah satu diantara mereka adalah penulis kitab (Asarul Hujjat), yang dalam jilid pertamanya secara jelas dan luas membahas pribadi besar beliau, sebagian lainnya adalah ulama dan cendikiawan ternama dan popular di era sekarang ini, seperti Almarhum Ayatullah Hajj Sayyid Muhammad Muhahiq (menantu Ustadz besar hauzah Ilmiah Qom), mufasir besar dan hakim agama, Almarhum Ustadz Allamah Thabatabai’. Dari beberapa pelajaran Ayatullah Hujjat yang ada sekarang adalah (kitab al-Bai’), terdiri dari dua jilid, jilid pertama ditulis oleh Ustadz Syaikh Abu Thalib Tajlil dan jilid kedua oleh Almarhum Hajj Syeikh Yahya Fadhil Hamadani. Pada tahun 1372 HQ telah dicetak dan diterbitkan.
Karya-karya
Karya-karya Almarhum Ayatullah Hujjat yang berharga dan tertinggal, yang menunjukan keluasan ilmu dan pemikirannya, terlihat berikut dari sebagian tulisan-tulisan dan karyanya, antara lain:
Karya yang Selalu Dikenang
Dari beberapa karya dan peninggalan Ayatullah Hujjat yang ada dan selalu dikenang, adalah Madrasah, Masjid dan Perpustakaan Hujjatiyah, yang mendapat perhatian serius dari para peneliti Ilmu-ilmu keislaman di Hauzah Ilmiah-Qom.
Semangat Belajar
Almarhum Ayatullah Hujjat Ra, memiliki kecintaan yang luar biasa dan penuh semangat dalam belajar buku-buku ilmiah dan fiqh. Perasaan lelah dan capai seakan tak pernah ada. Ia tidak mempunyai kesibukan lain selain belajar dan muthala’ah, sampai-sampai malamnya dihabiskan untuk hal tersebut.” Kebiasaan yang sudah melekat pada dirinya, biasanya setiap 3/4 tahun sekali melakukan penelaahan ulang terhadap semua buku-buku pelajaran hauzah (dari Muqadimah sampai Kifayah) dengan seksama dan serius. Dengan sebab kecintaan yang luar biasa pada khazanah ilmu dan karya-karya ulama besar syiah dari semejak tinggal di hauzah Najaf- dengan tekun Ia melakukan pengumpulan karya-karya dan tulisan tangan para ulama besar syiah. Bukan rahasia umum lagi, bahwasanya Ia membeli salinan kitab Wasa’il Syiah.
Sebagian dari ciri khas Ayatullah Hujjat
Salah satu kekhususan Ayattulah Hujjat terlihat pada kepribadian dan penampilannya, kepada teman-teman dan sahabatnya Ia berkata; ”Janganlah Anda berdakwah untuk saya dan jangan muat photo saya di majalah-majalah dan koran-koran.” Kepada para ahli mimbar berkata; ”saya tidak ridha nama saya dibawa ke mimbar-mimbar.” Kekhususan lain dalam kisah hidupnya adalah dengan penuh kesabaran, ketenangan dan ketulusan Ia menimba ilmu dan berbagai tekanan, hinaan dan benturan pemikiran tidak terlihat dan itu gambaran penggalan hidupnya.
Almarhum Ustadz Muthahhari bercerita tentang hijrahnya Ayatullah Hujjat dari kebiasaan dan tekad kuatnya Ia, bahwa: "Almarhum Ayatullah Hujjat (semoga Allah meninggikan derajatnya), suatu hari, Ayatullah Hujjat memiliki sebatang rokok, sebenarnya saya sampai sekarang belum tahu pendapatnya tentang merokok. Kadang-kadang beliau merokok secara terus menerus tidak berhenti dan kadang-kadang hanya sesekali saja, sebentar dan habis begitu saja. Sewaktu sakit, sebagian besar waktunya Ia pergunakan untuk merokok. ketika sakit, Ia dibawa ke Tehran untuk berobat. Dokter berkata padanya; “Anda terkena penyakit paru-paru, tinggalkan merokoknya.” Ia lalu berkata sambil bercanda pada dokter tersebut; ”dada ini saya pergunakan supaya dapat merokok, kalau tidak merokok bagaimana dengan keadaan dada saya, dan apa yang mesti saya lakukan. Lalu dokter berkata; “dengan alasan apapun merokok dapat membahayakan anda. Dan benar-benar membahaykan. Lalu beliau menjawab; membahayakan? Berkata lagi: “benar, begitu adanya. Beliau berkata lagi: “kalau begitu saya tidak akan merokok lagi, sekali tidak merokok selamanya tidak akan pernah merokok lagi.” Tandasnya. Sebuah niat dan tekad yang kuat akhirnya beliau lontarkan untuk meninggalkan kebiasaannya. Kekhususan lainnya beliau adalah kecintaan pada sesuatu yang tinggi dan mulia dan kecintaan yang luar biasa terhadap Imam dan para pemimpin syuhada Hadrat Aba Abdilah Husein alaihissalam.
Meninggal Dunia
Di akhir hayatnya, Ayatullah Hujjat beristikharah dengan memecahkan turbah, beliau melakukan istikhorah, dan ayat (lahu dawah al-Haq) adalah jawabannya, sebagaimana tertoreh di atas pusaranya:
æ ÈÚÏ ãÇ ÇÓÊÎÇÑ ÈßáÇã ÇáÍÞ ÝÜì ßÓÑ ÎÇÊãå æ ÇÌíÈ ÈÞÜæáå ÊÚÇáì ((áå ÏÚæå ÇáÍÞ )) ÇãÑ Èå Ëã ÊäÇæá ÇáÊÑÈå ÇáÍÓíäíå æ ÞÇá : ÂÎÑ ÒÇÏì ãÜä ÇáÏäíÇ ÇáÊÑÈå , ÝáÈì ÏÚæÊå ÒæÇá íæã ÇáÇËäíÜä ËÇáË ÌãÇÏì ÇáÇæáì ãä Óäå 1372)
Berkaitan dengan kejadian tersebut, salah seorang yang cinta kepadanya menggubah sebuah bait syair di bawah ini:
“Ia memakan tanah Karbala dan berkata,
Cukuplah ini sebagai bekal terakhir dari dunia”
Dengan begitu, sesuai dengan yang disepakati, pada usia 62 tahun, Ayatullah Hujattiyah Ra pulang keharibaan Tuhannya. Dengan meninggalnya Ia, dunia keilmuan dan keutamaan pun lenyap. Dan Ayatullah Boroujerdi ketika mendengar berita meninggalnya Ayatullah Hujjat berkata: “hancur sudah”. Dengan cepat tersebar berita meninggalnya sosok agung, taqwa dan utama ini ke penjuru kota dan pada hari itu juga seluruh kota diliburkan. Badan suci Ayatullah Hujjat setelah dimandikan, dikafani dan disholatkan oleh Hadrat Ayatullah Boroujerdi, akhirnya dikebumikan di pelataran madrasah Hujjatiyah.
“Biarkanlah dunia yang membunuh anaknya sendiri
Apa yang dikatakan Sang Ayah biarkanlah Ia
Dunia adalah tempat sementara
Jangan memandangnya sebagai hunian
Dia akan berlalu, sebagaimana berlalunya musim semi”