|
Oleh: Sayid Muh. Rizvi
"Pada tanggal 18 Dzul-Hijjah penganut ajaran Syiah seluruh dunia mengadakan acara akbar karena hari itu adalah hari Idul GhadirKhum, hari ketika Rasulullah Saw menyampaikan ihwal Ali kepada umat: "Barang siapa yang menjadikan aku sebagai mawlanya, maka Ali adalah mawlanya." Peristiwa ini, karena sedemikian penting bagi orang-orang Syiah sehingga tidak seorang ulama Islam yang serius yang mengabaikan begitu saja perisitiwa ini. Tujuan tulisan ini adalah mengkaji bagaimana para orientalis mengambil peristiwa Ghadir Khum ini. Dengan menggunakan istilah orientalis, penulis bermaksud ulama Islam barat dan juga mereka yang berasal dari Timur yang menerima pendidikan Islam mereka di bawah pendidikan orang-orang orientalis. Sebelum melangkah lebih jauh, kami akan menceritakan secara singkat peristiwa Ghadir Khum ini. Narasi singkat ini –secara khusus– akan membantu mereka yang belum mengetahui peristiwa ini. Selepas menunaikan ibadah haji yang terakhir (hajjatul wida'), Nabi Saw menerima perintah dari Allah Swt: "Wahai Rasul, sampaikan apa yang diturunkan kepadamu oleh Tuhanmu; jika engkau tidak sampaikan, maka engkau tidak menyampaikan pesan-Nya sama sekali. Dan Allah akan melindungimu dari orang-orang yang kafir." (Qs. Al-Maidah [5]:67). Lalu Nabi Saw berhenti di suatu tempat yang bernama GhadirKhum pada tanggal 18 Dzulhijjah, tahun ke 10 setelah hijrah untuk menyampaikan pesan kepada para peziarah haji ketika itu, sebelum mereka pulang ke tempatnya masing-masing. Pada satu tempat, beliau bertanya kepada mereka yang hadir ketika itu (pengikut beliau), Apakah ia (Muhammad), lebih memiliki otoritas (awla) atas orang-orang mukmin lebih atas diri mereka sendiri, orang-orang yang hadir ketika itu menjawab : " Benar, memang demikian adanya wahai Rasulullah". Lalu ia mengangkat tangan Ali dan mengumumkan: " Man kuntu mawla, fa hadza Aliyyun mawla (Barang siapa yang menjadikan aku sebagai mawlanya, maka Ali adalah mawlanya). Kemudian Nabi juga mengumumkan akan kepergiannya (wafat) dan meminta orang-orang beriman untuk tetap bersandar kepada al-Qur'an dan Ahlulbait. Demikianlah ringkasan bagian penting dari peristiwa Ghadir Khum. Bagian utama dari tulisan ini dibagi sebagai berikut: Bagian kedua merupakan survei singkat dari pendekatan yang digunakan oleh kaum Orientalis dalam mengkaji Syiah. Bagian ketiga dari tulisan ini berkaitan dengan pendekatan yang digunakan untuk mengkaji Ghadir Khum secara khusus. Bagian keempatnya adalah pandangan kritis M.A. Syaban yang ia tulis ihwal peristiwa ini dalam Islamic History AD 600–750. Dan akan diakhiri dengan sebuah kesimpulan."
Semoga hari Idul Ghadir menjadi hari bahagia buat Anda, khususnya yang bersiteguh kepada wilayah dan imamah Amirul Mukminin dan Imam Maksumin As. Diterjemahkan dari bahasa Inggris, Orientalis & Idul Ghadir, karya Sayid. Muh. Rizvi, oleh A. Kamil Views: 1785
|
- Please keep the topic of messages relevant to the subject of the article.
- Personal verbal attacks will be deleted.
- Please don't use comments to plug your web site. Such material will be removed.
- Just ensure to *Refresh* your browser for a new security code to be displayed prior to clicking on the 'Send' button.
- Keep in mind that the above process only applies if you simply entered the wrong security code.
|
Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6 AkoComment © Copyright 2004 by Arthur Konze - www.mamboportal.com All right reserved |