|
Jejak |
|
Ibnu Sab’in;Sang Penggagas Wihdatul al-Mutlaqah |
|
|
|
|
Aug 28, 2007 at 10:46 AM |
|
Oleh: Mukti Ali "Dan para analis kesusahan menelisik lebih jauh siapa gerangan master atau guru bagi sang teosof kita, Ibnu Sab’in. Sebagian berpendapat ada tiga master yang dianggap sebagai guru Ibnu Sab’in, yaitu pertama, Ibn Daqqaq, yaitu Ibrahim bin al-Yusuf bin Muhammad bin al-Daqqaq al-Uwesy, yang terkenal disapa dengan Aby al-Ishaq atau Aby al-Mir’ah. Dia adalah seorang teolog yang cukup lama bermukim di Andalus, di mana pada waktu di Andalus, dia telah mengajar tentang teologi, tasawwuf, dan disiplin ilmu yang lainnya. Dia pindah ke Mursiya sampai wafatnya pada 611 H. (1214 M.—1215 M.), meninggalkan beberapa karya di antaranya, komentar atas Kitab al-Irsyad, Aby al-Ma’aly al-Juwaeni, komentar atas al-Asma’ al-Husna, komentar atas al-Mahasin al-Majalis, Aby al-‘Abbas Ahmad bin al-‘Aryf dan sejumlah karya yang lain. Kedua, Al-Buni, yaitu Abu al-‘Abbas Ahmad bin ‘Ali Yusuf al-Qursy Muhyi al-Din. Dia adalah pakar dalam bidang ilmu nama-nama dan huruf, wafat pada 622 H. (1225 M.), di mana dia telah berhasil menulis karya dalam bidang yang digelutinya, yaitu Syamsul al-Ma’arif wa al-Lathaif al-‘Awarif dan karya yang lain dalam bidang yang sama. Dan ketiga, al-Harani, yaitu Abu al-Hasan bin Ali bin Muhammad bin Ibrahim bin Muhammad al-Hurani, wafat pada 538 H., dia adalah seorang pakar dalam bidang ilmu nama-nama dan huruf dan dia termasuk gurunya al-Buny."
Be first to comment this article | Views: 2642 |
|
Read more...
|
|
|
Aug 18, 2007 at 06:28 AM |
|
Oleh: Ummu 'Aliyain "Seiring dengan terbitnya bulan Sya'ban, pada hari-hari pertama bulan mulia ini, secara beruntun, kita bersua dengan beberapa hari besar yaitu hari-hari lahirnya para manusia suci, Imam Husain, Hadhrat Abul Fadhl Abbas, Imam Sajjad, Ali Akbar bin Husain dan Imam Mahdi Ajf. Pada hari ketiga, kita merayakan milad Imam Husain, pada hari keempat kita memperingati hari lahirnya Abul Fadhl Abbas bin Ali bin Abi Thalib, sementara pada hari kelima kita merayakan hari lahir Imam Sajjad, pada hari kesebelas merupakan hari lahir Ali Akbar bin Husain As lalu pada hari kelima belas Sya'ban, kita merayakan hari lahirnya Imam Pamungkas, al-Mahdi al-Muntazhar.Kalau kita amati secara seksama, kesemua nama kudus yang disebutkan di atas merupakan para ksatria Nainawa yang berjuang untuk mempertahankan agama suci Nabi yang sedang dinodai dan digagahi oleh antek-antek Bani Umayyah. Perjuangan Imam Husain beserta para penolong dan pembantunya merupakan perjuangan melawan kezaliman. Dengan demikian perjuangan Imam Mahdi yang berjuang melawan kezaliman merupakan kelanjutan dari perjuangan Imam Husain As. Sehingga ia dapat dikategorikan sebagai ksatria Nainawa yang kelak akan menumpas tuntas kezaliman yang memenuhi semesta dan menggantikannya dengan keadilan yang merata di seantero jagad." Be first to comment this article | Views: 743 |
|
Read more...
|
|
|
Aug 14, 2007 at 04:00 AM |
|
Oleh: A. Kamil "Sistem filosofis Isyraq merupakan salah satu sistem yang paling bernilai dalam filsafat Islam. Fondasi filsafat Isyraq yang dikenal hari ini, dibangun dan dikeranka oleh seorang pemikir, arif, alim Syihabuddin Suhrawardi. Pengaruh filsafat Isyraq bagi kesempurnaan filsafat di Iran dan khususnya pengaruhnya pada bidang irfan teoritis (nazhari) boleh jadi melebihi sistem-sistem filsafat lainnya. Fondasi historis filsafat Isyraq dari satu sisi bertengger di atas ajaran-ajaran transendental al-Qur'an dan dari sisi lain berdiri di atas maktab-maktab (schools of thought) Platonis dan Neo-Platonis. Filsafat Isyraq tidak seperti filsafat Peripatetik yang mengandalkan proses rasionisasi (ta'aqqul) dan demonstrasi akal (an sich), filsafat Isyraq mengandalkan proses rasionisasi (ta'aqqul) dan demonstrasi akal bersandar kepada pengenalan cahaya yang eksis pada subjek. Wujud atau eksisten dalam perspektif filsafat Isyraq merupakan cahaya mujarrad yang sumbernya memancar dari cahaya segala cahaya dan memenuhi seluruh semesta." Be first to comment this article | Views: 1073 |
|
Read more...
|
|
|
Aug 12, 2007 at 09:22 PM |
|
Oleh: Muh. Adlani "Mulla Shadra seorang filosof yang sederajat dengan filosof Abu Nasir Farabi, Ibnu Sina, Syaikh Isyraq Suhrawardi, Nasiruddin Thusi, Ibnu Rusd, Ibnu Miskawai dan lain sebagainya. Juga penafsir serta penyempurna filsafat-filsafat Islam sebelumnya, dalam ilmu Irfan iapun sederajat dengan para urafa seperti Ibnu Arabi. Dalam kehidupannya ia berupaya jauh dari kehidupan mewah dan tidak mengejar kekuasaan dan tidak banyak berinteraksi dengan masyarakat awam. Pada tahun 1039 H atau 1631 dia ke desa kecil bernama Kahak yang terletak di dekat kota suci Qum dan menggunakan banyak waktunya untuk pensucian diri, tafakkur tentang hakikat-halikat segala sesuatu dan beribadah kepada Tuhan. Ia meninggalkan desa tersebut dan kembali lagi ke Syiraz pada tahun 1040 H atau 1632.Mulla Shadra berkeyakinan untuk sampai kepada kesempurnaan makrifat Tuhan (tauhid) dan ilmu akhirat (eskatologi) maka seseorang harus mutlak meninggalkan dunia, syahwat dan cinta pada kekuasaan disertai dengan kecerdasan akal, ketajaman fitrah dan kesucian jiwa." Be first to comment this article | Views: 1465 |
|
Read more...
|
|
| | |