|
Refleksi
|
Mar 06, 2008 at 02:28 PM |
|
Oleh: Admin
"Di penghujung bulan Safar, suasana duka kembali menyelimuti langit-langit hati kita. Wafatnya Rasuullah, syahidnya Imam Hasan dan Imam Ridha As merupakan rentetan peristiwa yang menutup Safar ini dengan kidung senja. Sisa-sisa duka belum lagi sirna setelah Arbain Imam Husain, kini derai air mata kembali tumpah ruah mengenang syahadah para manusia suci. Pada kesempatan ini, sembari berziarah ke ruh kudus Imam Hasan, sejenak mari kita menelaah ulang sekilas ihwal peri kehidupannya untuk kita jadikan teladan bagi kehidupan kita.
Disebutkan oleh Mas'udi dalam Muruj adz-Dzahab bahwa ketika Imam Hasan dikebumikan, saudaranya Muhammad bin Hanafiyyah berdiri di samping pusaranya dan berkata: "Jika hidupmu dengan kemuliaan, kepergianmu telah menjadi sebab kekalahan. Alangkah bahagianya kafan yang menyelimuti dirimu. Mengapa tidak demikian sementara engkau adalah pelita hidayah dan khalifah ahli taqwa." Imam Hasan merupakan putra sulung dari Imam 'Ali dan Hadrat Fatimah. Ketika Nabi Saw menerima berita gembira kelahiran cucunya, ia datang ke rumah putri kinasihnya, menggendongnya, membacakan adzan di telinga kanannya dan iqamah di telinga kirinya, dan sesuai dengan perintah Allah Swt, Nabi Saw memberikan nama anak tersebut dengan nama al-Hasan." Be first to comment this article | Views: 1013 |
|
Read more...
|
|
|
Feb 27, 2008 at 11:28 AM |
|
Oleh: Admin
"Angka-angka tidak hanya berlaku dalam kehidupan materi semata bahkan dalam kehidupan spritual sekalipun angka memiliki peranan yang sangat penting. Jumlah rakaat dalam salat, jumlah tasbih arbaah, jumlah tasbih Hadhrat Fatima As dan hal-hal serupa yang menunjukkan bahwa kehidupan ma'nawiyah tidaklah lepas dari nilai angka-angka. Nilai angka-angka itu dimulai dari angka lima, tujuh, dua belas, empat belas dan empat puluh dimana untuk setiap angka memiliki arti tersendiri sebagaimana yang akan kami jelaskan nantinya. Nilai angka lima diartikan bahwa ada lima nabi ulul azmi (lima nabi pembawa kitab suci), dan lima anggota keluarga Nabi Muhammad Saw. Nilai angka tujuh diartikan dengan tujuh langit dan tujuh kota cinta, tujuh tahapan perjalanan ruhani dalam Irfan, dan tujuh kali tawaf di Baitul Haram Ka'bah. Angka dua belas diartikan dua belas manusia suci, dua belas mata air yang terpancar dari batu oleh mukjizat Nabi Musa As. Angka empat belas diartikan sebagai 14 manusia suci, untuk itu pula nilai angka 40 pastilah memiliki nilai dan arti tersendiri." Be first to comment this article | Views: 757 |
|
Read more...
|
|
|
Jan 20, 2008 at 11:46 AM |
|
Oleh: Ruhullah Syams "Sebagian teolog dan filosof Islam kontemporer (seperti Ayatollah Jawady Amuli Hf) memandang ayat mitsaq (ikrar) berhubungan dengan tauhid fitri, dan menggambarkan bahwa manusia dalam suatu fase dan wadah khusus telah bersaksi akan keesaan Tuhan, rububiah Tuhan, dan kehambaan manusia. Dengan demikian maka bagi manusia tidak ada jalan untuk lalai dan lupa akan mitsaq-nya dengan Tuhan, sehingga dia bisa berapologi untuk tidak mempertuhankan Wajibul Wujud. Hakikatnya perjanjian di sini adalah suatu bentuk mitsaq takwini, bukan i'tibari (tasyri’i), yakni manusia berjanji pada Tuhan untuk menjadi muwahhid (hamba bertauhid) dan taat pada Tuhan serta tidak menyembah selain-Nya. Mitsaq ini, sebab dilakukan oleh seluruh manusia maka seluruh manusia pada hakikatnya memiliki kecenderungan tauhid pada Hak (tauhid fitri)." Be first to comment this article | Views: 770 |
|
Read more...
|
|
|
Oct 07, 2007 at 03:58 PM |
|
Oleh: Sayid Haidar Amuli "Puasa ahli tarekat (pesuluk) diibaratkan dengan menahan diri untuk melakukan apa yang bertentangan dengan keridhaan Allah Swt, perintah-perintah-Nya, dan larangan-larangan-Nya, baik secara perkataan ataupun perbuatan, baik secara ilmu ataupun amal. Rasulullah Saw bersabda, “Allah berfirman, ‘Setiap kebaikan mendapatkan sepuluh pahala serupanya hingga tujuh ratus kali, kecuali puasa, karena puasa adalah milik-Ku dan Aku dibalas dengannya.” Nabi juga bersabda, ”Setiap sesuatu memiliki pintu dan pintu ibadah adalah puasa.” Keunikan puasa dengan pemuliaan dan pengagungan dikarenakan dua hal berikut. Pertama, dikembalikan kepada makna menahan diri dari hal-hal yang diharamkan dan menahan diri dari syahwat-syahwat atau dikembalikan kepada makna bahwa puasa itu adalah amalan yang bersifat rahasia dan tidak diketahui selain Allah. Puasa adalah tidak seperti shalat, zakat, dan ibadah-ibadah lainnya yang diketahui oleh selain-Nya dan bisa dimasuki oleh riya dan ujub yang justru bisa membatalkan ibadah itu dan menyia-nyiakan ketaatan. Allah Swt berfirman, Barangsiapa yang mengharap bertemu dengan Tuhannya, maka hendaknya dia mengerjakan amal saleh dan tidak mempersekutukan seorang pun dalam beribadah pada Tuhannya. (QS. Al-Kahfi [18]:110). Para ahli tafsir sepakat bahwa makna mempersekutukan pada ayat itu adalah riya." Be first to comment this article | Views: 580 |
|
Read more...
|
|
|
Hikmah Spiritual, Moral, Sosial dan Medikal Puasa |
|
|
|
|
Sep 19, 2007 at 04:11 PM |
|
Oleh: Laogi Mahdi "Tak terasa seminggu sudah berlalu kita menjalani puasa. Semoga amal dan ibadah kita di bulan mulia ini mendapatkan ijabah dari Tuhan. Ritual yang menjadi kewajiban seluruh kaum Muslimin di manapun. Kita masih pada minggu pertama menjalan ibadah kudus ini. Tiada salahnya jika kita sedikit merenungi dimensi yang beragam yang terkadung dalam ibadah yang konon hanya dikhususkan untuk umat ini. Dulu puasa diwajibkan atas orang-orang terdahulu, sebagaimana yang diiisyaratkan dalam kitab suci, namun puasa Ramadhan hanya untuk para nabi dan umat Muhammad. Sedemikian tinggi nilai dan martabat puasa Ramadhan ini, sehingga hanya orang-orang tertentu saja yang berpeluang mendulang kebaikan di dalamnya. Waktu pelaksanaan puasa berlansung sebulan penuh, artinya detik demi detik, menit-demi-menit, jam-demi-jam, hari-demi-hari hingga sebulan penuh, kesempatan emas ini datang kepada kita. Datang kepada orang-orang yang diseru oleh Tuhan sebagai Mukminin. Seruan ini berisikan perintah untuk berpuasa selama sebulan penuh. Perintah yang datang dari Tuhan Yang Mahabijak dan Mahahakim. Tiada yang diperintahkan untuk dikerjakan selain perintah itu membawa maslahat bagi kehidupan manusia, sebagaiman tiada larangan yang ia larang kecuali larangan itu membawa mudharat bagi kehidupan manusia. Telah banyak riset dan penilitian yang dilakukan ihwal manfaat puasa bagi manusia. Baik dari dimensi spiritualnya maupun materialnya. Berpuasa dengan memperhatikan adab-adabnya dan menjalankan yang disunahkan, dapat berdaya-guna secara spritual, sosial, moral dan medikal."
Be first to comment this article | Views: 1592 |
|
Read more...
|
|
| | << Start < Previous 1 2 Next > End >>
| | Results 1 - 9 of 15 | |