|
Kalam
|
Dec 28, 2007 at 08:02 AM |
|
Oleh: Sayid Muh. Rizvi
"Pada tanggal 18 Dzul-Hijjah penganut ajaran Syiah seluruh dunia mengadakan acara akbar karena hari itu adalah hari Idul GhadirKhum, hari ketika Rasulullah Saw menyampaikan ihwal Ali kepada umat: "Barang siapa yang menjadikan aku sebagai mawlanya, maka Ali adalah mawlanya." Peristiwa ini, karena sedemikian penting bagi orang-orang Syiah sehingga tidak seorang ulama Islam yang serius yang mengabaikan begitu saja perisitiwa ini. Tujuan tulisan ini adalah mengkaji bagaimana para orientalis mengambil peristiwa Ghadir Khum ini. Dengan menggunakan istilah orientalis, penulis bermaksud ulama Islam barat dan juga mereka yang berasal dari Timur yang menerima pendidikan Islam mereka di bawah pendidikan orang-orang orientalis. Sebelum melangkah lebih jauh, kami akan menceritakan secara singkat peristiwa Ghadir Khum ini. Narasi singkat ini –secara khusus– akan membantu mereka yang belum mengetahui peristiwa ini. Selepas menunaikan ibadah haji yang terakhir (hajjatul wida'), Nabi Saw menerima perintah dari Allah Swt: "Wahai Rasul, sampaikan apa yang diturunkan kepadamu oleh Tuhanmu; jika engkau tidak sampaikan, maka engkau tidak menyampaikan pesan-Nya sama sekali. Dan Allah akan melindungimu dari orang-orang yang kafir." (Qs. Al-Maidah [5]:67). Lalu Nabi Saw berhenti di suatu tempat yang bernama GhadirKhum pada tanggal 18 Dzulhijjah, tahun ke 10 setelah hijrah untuk menyampaikan pesan kepada para peziarah haji ketika itu, sebelum mereka pulang ke tempatnya masing-masing. Pada satu tempat, beliau bertanya kepada mereka yang hadir ketika itu (pengikut beliau), Apakah ia (Muhammad), lebih memiliki otoritas (awla) atas orang-orang mukmin lebih atas diri mereka sendiri, orang-orang yang hadir ketika itu menjawab : " Benar, memang demikian adanya wahai Rasulullah". Lalu ia mengangkat tangan Ali dan mengumumkan: " Man kuntu mawla, fa hadza Aliyyun mawla (Barang siapa yang menjadikan aku sebagai mawlanya, maka Ali adalah mawlanya). Kemudian Nabi juga mengumumkan akan kepergiannya (wafat) dan meminta orang-orang beriman untuk tetap bersandar kepada al-Qur'an dan Ahlulbait. Demikianlah ringkasan bagian penting dari peristiwa Ghadir Khum. Bagian utama dari tulisan ini dibagi sebagai berikut: Bagian kedua merupakan survei singkat dari pendekatan yang digunakan oleh kaum Orientalis dalam mengkaji Syiah. Bagian ketiga dari tulisan ini berkaitan dengan pendekatan yang digunakan untuk mengkaji Ghadir Khum secara khusus. Bagian keempatnya adalah pandangan kritis M.A. Syaban yang ia tulis ihwal peristiwa ini dalam Islamic History AD 600–750. Dan akan diakhiri dengan sebuah kesimpulan." Be first to comment this article | Views: 1823 |
|
Read more...
|
|
|
Dec 28, 2007 at 01:05 AM |
|
Oleh: M. Ridha Jabbariyan Ahli bahasa beranggapan bahwa derivasi ‘ied adalah dari kata ‘aud. Dan kata ‘aud bermakna kembali. Oleh karena itu setiap ied adalah berarti kembali atau mudik. Kembali secara berulang adalah sebuah gerakan setelah melintasi kausa nuzuli dan mulai beranjak naik menuju kausa su’udi. Sebagaimana kita memperingati tahun baru (nuruzz, tahun baru Persia, AK) sebagai saat-saat kembalinya kehidupan kepada tabiat (alam).Sebuah kehidupan yang terpasung dalam tawanan suasana dingin, dan pada puncak kedinginan musim salju (winter, semiztân) dan bahkan pada batas ketiadaan – hingga seolah-olah tiada – dan kemudian lahir kembali dengan tibanya musim semi dan ibarat melodi yang mengalun naik. Kembalinya kehidupan kepada suasana musim semi ini harus diperingati. Dan hal ini merupakan puncak semangat sebuah maktab yang dipersembahkan kepada dunia materi. Kini apabila alegori (perumpamaan) ini kita aplikasikan pada teks-teks agama dimana seluruh semesta merupakan mukaddimah bagi wujud manusia dan tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah, maka hari raya harus dimeriahkan sebagai hari kembalinya kehidupan maknawi manusia. Dalam maktab seperti ini, hari raya manusia, adalah hari kembalinya ia kepada kesejatiannya dan menemukan kembali dirinya yang hilang; Hari dimana manusia ia meninggalkan derâkât (pada hal-hal yang buruk disebut derâkât dan pada hal-hal yang baik disebut derajat, AK) kehidupan bendawi dan menuju kepada derajat kehidupan maknawi. Hari tatkala manusia menemukan taufik, topeng tanah yang merupakan roman jiwa sucinya ia hadapkan kepada Sang Pencipta. Bulan suci Ramadhan merupakan bulan dimana salik (orang yang meniti jalan suluk, irfan dan tazkiyatun nafs, AK) yang berpuasa mendapatkan taufik dengan perjuangan dalam menghadapi angin-angin jahat keterikatan-keterikatan duniawi, api cinta Ilahi yang terpasung dalam peti-peti es bendawi, membara dan kembali ia nyalakan. Be first to comment this article | Views: 643 |
|
Read more...
|
|
|
Aug 17, 2007 at 02:46 PM |
|
Oleh: Ayatullah al-Uzhma Makarim Syirazi Hf "Seorang ilmuwan materialis tidak akan pernah memberikan izin kepada seseorang untuk bertanya kepada seorang astronom, “Coba Anda buktikan salah satu mikroba dengan menggunakan instrumen-instrumen dan alat kalkulasi astronomi!” Demikian pula kita tidak layak berharap dari seorang spesialis mikroba untuk dapat menyingkap bintang-bintang senja dengan menggunakan instrumen-instrumen mikrologi. Karena, mereka masing-masing hanya dapat digunakan dalam wilayah spesialisasi ilmunya dan tidak dapat digunakan di luar wilayah spesialisasi dan aplikasinya. Mereka tidak dapat berkata positif (iya) atau negatif (tidak) dalam menyampaikan pendapat. Oleh karena itu, bagaimana kita mengetahui kebenaran ilmu-ilmu alam dalam membahas sesuatu yang berada di luar wilayah naturalnya, dengan pertimbangan bahwa wilayah penetrasinya terbatas pada alam, efek dan spesialisasinya saja." Be first to comment this article | Views: 1309 |
|
Read more...
|
|
|
Aug 06, 2007 at 09:29 PM |
|
Oleh: Muh. Adlani "Ilmu hermeneutik telah melalui proses sejarah yang panjang di dunia Barat, pandangan dan gagasan yang muncul tentangnya bermacam-macam dan terkadang saling bertolak belakang. Di barat, hermeneutik berproses dalam tiga jenjang historis, yaitu: hermeneutik pra klasik, hermeneutik klasik, dan hermeneutik kontemporer. Pada jenjang pertamanya terhitung sejak hadirnya gerakan reformasi agama hingga abad kesembilanbelas Masehi dan munculnya pemikir Friedrich D. E. Schleiermacher. Masa kedua dari Schleiermacher hingga Martin Heidegger, dan zaman ketiga adalah pasca Heidegger yang dikenal dengan nama hermeneutik filosofis. Hingga pada zaman Schleiermacher, hermeneutik hanya difungsikan sebagai media untuk interpretasi teks-teks Kitab Suci agama. Ia kemudian meluaskan subjeknya dan merumuskan kaidah-kaidah untuk menafsirkan teks-teks selain agama seperti kesusastraan dan hukum. Setelahnya, ditangan Wilhelm Dilthey, ranah hermeneutik semakin melebar mengkaji segala teks dan pemahaman terhadap masalah-masalah yang berhubungan dengan humaniora (human sciences). Pada akhirnya dengan perantaraan Heidegger, domain hermeneutik menjadi sangat universal yang membahas teks dan non-teks, fenomena-fenomena yang berkaitan dengan prilaku manusia, alam materi, dan metafisika." (Dikutip dari www.wisdoms4all.com] Be first to comment this article | Views: 1643 |
|
Read more...
|
|
|
Aug 02, 2007 at 01:05 AM |
|
Oleh: Ayatullah al-Uzhma Makarim Syirazi Hf "Galibnya, dalam pembahasan ma’rifatullah, soal seperti ini dilontarkan oleh orang-orang yang baru menelusuri padang luas ini. Mereka akan bertanya, “Jika Anda mengatakan bahwa segala sesuatu memiliki pencipta, kini katakan kepada kami siapakah pencipta Tuhan itu?” Anehnya, acapkali soal seperti ini terurai pada sebagian ucapan-ucapan filsuf Barat yang menandakan hingga batas mana mereka berbuat dan berstatus Awal dalam pembahasan filsafat .Bertrand Russel, salah seorang filsuf ternama Inggris dalam bukunya “Why I am Not a Cristian?” (Mengapa Aku Bukan Seorang Kristian?)” berkata, “Aku beriman kepada Tuhan ketika aku berusia muda. Aku meyakininya melaui argumen kausalitas yang terbaik. Dan Aku melihat segala sesuatu yang ada di muka bumi ini memiliki sebab. Apabila mata-rantai sebab itu kita kaji, pada akhirnya kita akan sampai kepada sebab awal dan aku menamai sebab awal ini sebagai Tuhan. Akan tetapi setelah itu, aku meninggalkan kepercayaan ini. Lantaran aku berpikir; apabila segala sesuatu harus memiliki sebab dan pencipta, maka Tuhan juga harus memiliki sebab dan pencipta.” Be first to comment this article | Views: 907 |
|
Read more...
|
|
| | << Start < Previous 1 2 Next > End >>
| | Results 1 - 9 of 11 | |