|
50 Pelajara Akhlak: Tercelanya Tergesa-gesa [4] |
|
|
|
|
Feb 10, 2008 at 12:08 AM |
|
Oleh: Syaikh Abbas al-Qummi Ra Anakku yang baik, janganlah engkau tergesa-gesa dan terburu-buru dalam suatu urusan. Hendaklah engkau memikirkan segala perbuatan dan ucapan-ucapanmu terlebih dahulu. Ketahuilah bahwa segala urusan yang dilakukan oleh seseorang tanpa berfikir terlebih dahulu akan mengakibatkan kerugian dan menyebabkan pelakunya menyesal. Setiap ketergesa-gesaan dan gampangnya mengeluarkan pendapat dan pandangan, dapat menjadikannya hina di hadapan orang-orang dan tidak akan mendapat tempat nantinya di hati mereka. Pujangga Sa’di berkata: “Sesungguhnya segala amal perbuatan itu dapat dikerjakan dengan baik dengan kesabaran, pertimbangan dan berfikir. Setiap orang yang tergesa-gesa pasti akan terjungkal. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri di padang pasir, bagaimana orang yang berjalan perlahan-lahan, lambat dan berhati-hati akan tiba terlebih dahulu. Sementara kuda yang berlari kencang jatuh tersungkur. Lihatlah bagaimana unta dapat menyelesaikan perjalanannya yang jauh dengan hati-hati dan perlahan-lahan.” [AMA, www.telagahikmah.org]
Be first to comment this article | Views: 950 |
|
|
Jan 15, 2008 at 09:52 AM |
Oleh: Laogi Mahdi "Pada akhir hayatnya, Imam Husain As harus bertempur melawan raja bengis Yazid dan pasukannya.Yazid ketika memerintah mengubah agama Islam yang telah diajarkan dengan susah-payah oleh Nabi Saw. Kini tiba saatnya bagi seseorang untuk bangkit melawannya dan berkata kepadanya bahwa apa yang dilakukannya adalah keliru. Imam meninggalkan Madinah pada akhir bulan Rajab tahun 60 H dan bertolak ke Makkah untuk mencari tahu bagaimana sikap kaum Muslimin terhadap Yazid. Kemudian, masyarakat Iraq terus menulis surat untuk Imam untuk datang menolong mereka." Be first to comment this article | Views: 704 |
|
Read more...
|
|
|
Orang Seperti Aku Tidak Akan Membaiat Orang Seperti Dia |
|
|
|
|
Jan 15, 2008 at 09:39 AM |
|
Oleh: Laogi Mahdi "Imam Husain As berperang melawan penguasa Bani Umayyah Yazid pada tahun 61 H. demi menyelamatkan Islam.
Imam Husain As dipaksa untuk bertempur dengan lasykar Yazid karena beliau tidak memberikan baiat kepada Yazid. Ketika engkau memberika baiat kepada penguasa zalim, artinya bahwa engkau berjanji akan senantiasa mentaati dan membantunya. Imam Husain As berkata tentang Yazid, “Orang seperti Aku tidak akan memberikan baiat kepada orang seperti Yazid. ” Beliau bermaksud bahwa sebagai Imam bagi kaum Muslimin dan pembimbing mereka, beliau tidak akan pernah memberikan baiat kepada Yazid, yang berdiri untuk segalanya dalam menentang Islam. Imam Husain as berkata bahwa apa yang diyakini oleh Yazid adalah bertentangan sepenuhnya dengan apa yang diyakini oleh Imam Husain As. Yazid adalah pengikut syaitan sementara Imam Husain As adalah pengikut Allah Swt. Imam As mengetahui bahwa beliau dan keluarganya serta sahabat-sahabatnya akan syahid di Karbala. Beliau juga tahu bahwa ini adalah satu-satunya jalan untuk menghentikan Yazid dari merusak Islam." Be first to comment this article | Views: 600 |
|
Read more...
|
|
|
50 Pelajaran Akhlak: Himyah [3] |
|
|
|
|
Jan 12, 2008 at 02:16 AM |
|
Oleh: Syaikh Abbas al-Qummi Ra Saudaraku, janganlah engkau teledor dan lalai dalam menjaga (himyah) dan memelihara agamamu, kehormatanmu, anak-anakmu dan harta bendamu. Hendaklah engkau senantiasa menolak berbagai bid’ah dari para pembuat bid’ah dan berbagai keraguan para pengingkar agama yang nyata. Serius dan bersungguh-sunguhlah dalam menyebarkan syari’at yang mulia. Janganlah engkau melalaikan amar maruf dan nahi munkar. Janganlah engkau angkat penutup wibawamu dari wanita-wanita keluargamu dan kerabatmu. Berusahalah semampu mungkin agar para wanita keluargamu tidak memandang lelaki. Cegahlah mereka dari segala sesuatu yang kemungkinan dapat merusak iman dan akhlak mereka, seperti mendengarkan musik dan lagu-lagu, keluar dari rumah dan berkumpul dengan orang-orang yang tidak dikenal serta mendengarkan kisah-kisah dan cerita-cerita yang membangkitkan syahwat. Berlakulah lemah lembut kepada mereka dan seriuslah dalam meneliti dan memperhatikan hal-ihwal mereka.[www.telagahikmah.org]
Be first to comment this article | Views: 714 |
|
|
Bagaimana Merayakan Idul Ghadir? |
|
|
|
|
Dec 28, 2007 at 04:30 AM |
|
Oleh: M. Ridha Jabbariyan Hari ini, 18 Dzul-Hijjah kaum Muslimin merayakan sebuah hari raya, bahkan merupakan hari raya terbesar di antara hari-hari raya Islam, seperti Idul Fitri dan Idul Qurban. Hari itu adalah hari imamah, khilafah dan hari kesempurnaan agama dan kemanusiaan. Hari dimana Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As dinobatkan sebagai imam dan khalifah kaum Muslimin pasca Rasulullah Saw. Hari itu dalam perjalanan sejarah kaum Muslimin dikenal sebagai hari Ghadir. Apabila Ghadir bermakna kembalinya ingatan pada perubahan besar dalam sejarah umat manusia, di tengah budaya kaum Muslimin, hari Ghadir layak untuk diperingati sebagai hari raya akbar umat manusia khususnya bagi kaum Muslimin. Lantaran perubahan besar dalam sejarah umat manusia berlangsung pada hari ini. Dan sebagaimana kita mendengar dari lisan riwayat, bahwa pada hari ini kesempurnaan agama dan kebahagiaan manusia telah distempel dan dijamin. Seluruh agama-agama samawi, sebagai pendahulu agama Islam telah sempurna pada hari Ghadir. Dan Tuhan semesta alam (Rabbul ‘Alamin) telah rela dengan agama Islam. Be first to comment this article | Views: 663 |
|
Read more...
|
|
|
|
<< Start < Previous 1 2 3 4 5 6 Next > End >>
|
| Results 1 - 9 of 50 |