GENDER DALAM AL-QUR’AN
Dalam buku-buku filsafat kita temukan bahwa para filosof menganggap kerasionalan manusia adalah sebuah difrensia yakni pembeda. Karena, kerasionalan (nâtiq) mengungkap esensi dan atribut manusia dari sisi had dan rasm-nya serta sisi substansial dan aksidentalnya. Tentunya difrensia di sini bukanlah yang kita kenal dalam ilmu logika, tetapi ini setidaknya adalah konsekuensi dari adanya difrensia. Demikian pula, maksud dari “kerasionalan” manusia bukan berarti kerasionalannya dalam makna umum, tetapi ia mengandung arti kerasioanalan jiwa.
Para filosof mengkategorikan “kerasionalan” sebagai difrensia manusia dan gender sebagai pelengkap semata. Oleh sebab itu, ketika mereka membahas difrensia secara panjang lebar dalam sebuah bab khusus, mereka tidak memasukkan gender dalam pembahasan tersebut.
Ketika substansi menjadi sempurna, artinya kemanusiaan manusia telah sampai pada tingkat kesempurnaannya, maka barulah ketika itu masalah gender dapat dibahas, karena untuk mengidentifikasi sesuatu secara substansial dan aksidental, baru dapat diperoleh dari tahap tersebut.
GENDER DAN AKTUALITAS MANUSIA
Pembahasan lain yang dapat dikemukakan di sini adalah masalah perbedaan antara genus dan material. Dikatakan bahwa gender bersumber dari material bukan forma[1], karena forma segala sesuatu adalah pembentuk hakikat keberadaannya. Maka dari itu, gender tidak menjadi bagian dalam aktualitas dan kesesuatuan. Dengan kata lain, bila kita hendak mengetahui wujud aktual sesuatu, maka formanya mengungkapkan aktualitas dan hakikatnya. Namun karena materinya beragam dan berpeluang untuk menjadi aktual dalam forma lain pula, maka ia bukanlah pertanda hakikatnya.
Ahli Teosofi mengatakan bahwa gender adalah hal-hal yang berkaitan dengan materi bukan berkaitan dengan forma. Artinya ia tidak memiliki peranan di dalam forma dan aktualitas. Peranannya terdapat dalam materi semata. Ketika menyebutkan perbedaan antara genus[2] dan materi, bisa dikatakan bahwa materi memiliki beberapa bagian; sebagiannya mencakup pria dan wanita. Gender kembali kepada materi bukan forma, oleh sebab itu kedua genus tersebut tidak dikhususkan untuk manusia, namun juga ditemukan pada binatang dan tumbuhan.
Kedudukan manusia lebih tinggi dari alam dan seluruh isinya, oleh sebab itu alam bukanlah forma insani. Sebelum tingkatan manusia, ada tingkatan binatang dan tumbuhan yang masing-masing memiliki gender. Seandainya gender adalah forma insani, maka, pasti binatang dan tumbuhan, takkan bergender. Maka semakin jelas, bahwa gender berkaitan dengan materi bukan dengan forma.
PENCIPTAAN RUH DAN JASAD
Pada pembahasan yang lalu telah dijelaskan bahwa gender bersumber dari materi bukan forma, dan bahwa gender adalah pelengkap bukan inti. Berikut ini al-Qur’an membuktikan bahwa ruh bukan pria maupun wanita. Terdapat banyak ayat yang berbicara tentang ruh manusia. Sebagian menjelaskan bahwa sebelumnya ruh itu ada dan kemudian bersemayam di dalam jasad, seperti ayat yang berbicara tentang peristiwa penciptaan Adam As:
Allah SW. Berfirman;
“Sesungguhnya Aku akan ciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh (ciptaan)-Ku, maka hendaklah kamu bersyukur dengan sujud kepadanya.”[3]
Ayat ini adalah dalil bahwa ruh telah ada sebelumnya, sebagai bukti bahwa penciptaan ruh manusia mendahului jasadnya. Setelah raga mencapai kapasitas tertentu, maka ruh segera bersemayam di dalamnya, dan ia bergantung padanya.
IKATAN RUH DAN JASAD
Masalah wujud (eksistensi), hirarki wujud dan hubungannya dengan gerakan substansial, yakni bahwa esensi substansial bergerak melalui hirarki wujud, hal ini setidaknya dapat menjelaskan riwayat-riwayat yang menyatakan tentang kebermulaan (huduts) ruh dan bahwa semenjak tercipta, ruh akan menjadi kekal. Misalnya, riwayat yang menyatakan bahwa sejalan dengan proses penurunan hujan, jasad menyatu dengan ruh, sehingga dari sini sebagian ahli hikmah memiliki kaidah khusus dalam memaparkan masalah kebangkitan jasmani dengan menyandarkannya kepada hadits tersebut.
Bagaimanapun juga wujud memiliki hirarki atau tingkatan. Tingkatan-tingkatan tersebut bukan secara kebetulan. Sebagian tingkatan tersebut berupa alam materi, sebagiannya adalah alam barzakh dan sebagian lainnya merupakan alam non materi. Oleh sebab itu, untuk sampai dari tahapan materi ke tahapan ruh yang non materi, terlebih dahulu harus melalui proses perjalanan wujud secara cermat. Sehingga dari situ kita dapat memahami ayat yang berbunyi, kemudian Kami jadikan dia mahluk yang berbentuk lain.[4]
Dalam ayat tersebut Allah tidak mengatakan bahwa Dia telah menganugerahi sesuatu yang lain, namun Dia berfirman bahwa “Dia merubahnya menjadi mahluk yang lain”. Ungkapan tersebut berkaitan dengan Adam As dan cucunya. Dalam bentuk ciptaan yang baru itu tidak terdapat pembicaraan tentang pria maupun wanita. Jika perubahan bentuk itu serupa dengan perubahan-perubahan material, maka kita dapat mengatakan bahwa karena jasad telah tercipta sedemikian rupa sehingga menjadi sesuatu yang non materi, maka kalau begitu ruh wanita tidak sama dengan ruh pria.
Namun kenyataannya bukan demikian, karena pembahasannya bukan pada masalah gerakan wujud material dan berkenaan dengan waktu, bukan pula gerakan yang ada kaitannya dengan kualitas dan kuantitas wujud. Tidak juga dapat dikatakan bahwa jasad wanita bergerak sampai tingkatan ruh dan pria juga demikian. Namun esensi wujudnyalah yang bergerak. Dan esensi wujud manusia bukanlah pria atau wanita; ia bukanlah materi atau sifatnya. Inti sesuatu bukanlah pria dan bukan pula wanita. Oleh sebab itu tidak ada perbedaan antara pria dan wanita dalam tahapan "kemudian Kami jadikan dia mahluk yang berbentuk lain….."
RUH ADALAH SELURUH HAKIKAT MANUSIA
Menurut al-Qur’an, ruh adalah sesuatu yang non materi. Allah Swt menggenggam ruh ketika manusia meninggal. Allah Swt berfirman;
“Allah menggenggam jiwa (orang) ketika matinya dan jiwa yang belum mati diwaktu tidurnya.”[5]
Jika manusia telah kehilangan jasad, maka seluruh hakikat ruhnya tetap terjaga. Dari sini dapat disimpulkan bahwa jasad bukan hakikat dari substansi manusia, bukan bagian dari substansi tersebut, dan bukan pula sesuatu yang merupakan konsekuensi dari substansi manusia. Jasad hanyalah merupakan sebuah sarana bagi substansi manusia. Meski manusia memiliki jasad, baik di dunia, alam barzakh, maupun di akhirat, namun jasad dalam ketiga tahapan tersebut merupakan sarana aktivitas ruh. Bukti akan hal ini adalah firman Allah yang berkaitan dengan orang yang mati syahid.
Allah Swt berfirman; Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati: bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.[6]
Orang yang gugur di jalan Allah adalah hidup. Dia hidup tanpa jasad materi dan jasad materi ini tidak lebih dari sebuah alat untuk beraktivitas di alam materi, jika sudah tidak bermamfaat, maka ia mendapatkan jasad lain yang sesuai dengan alamnya (pada dasarnya jasad yang dimiliki oleh setiap manusia di alam sesudah alam materi ini adalah jasad yang dibuat oleh manusia itu sendiri, yakni sesuai dengan malakah nafsâninya; baca: tajassud amaliah), maka dari itu kendatipun jasad materi ini rusak dan hancur, tapi ruh manusia tetap hidup.
Dalam ayat yang lain Allah SWt berfirman;
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka hidup”.[7]
Ayat-ayat yang membicarakan tentang orang-orang yang gugur di jalan Allah adalah bukti bahwa ruh manusia membentuk semua hakikatnya. Oleh sebab itu dikatakan bahwa orang yang mati syahid adalah hidup. Atau berdasarkan ayat lain, yaitu firman Allah Swt Yang berbunyi. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.[8] Di sana manusia hidup namun dia telah kehilangan jasad duniawinya.
FAKTOR INTERNAL DAN EKSTERNAL
Dalil nalar menyatakan bahwa jika ada perbedaan antara dua hal yang berlawanan, maka harus dilihat apakah perbedaan itu disebabkan oleh faktor eksternal atau internal. Jika tidak ditemukan perbedaan yang bersifat substansial, maka keduanya berjenis sama, atau keduanya merupakan dua personal yang berasal dari jenis yang sama.
Dalam hal kewajiban dan larangan misalnya, pria dan wanita menerima ketatapan yang sama. Pria dan wanita tidak dibedakan dalam status mereka sebagai mukallaf yang harus menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Begitu pula dengan tujuan penciptaan dan kehidupan mereka di dunia, serta ganjaran atas seluruh amal perbuatan yang mereka lakukan, sebuah hadits berbunyi, “Tuhannya satu, ayahnya juga satu, begitu pula dengan agamanya juga satu,”[9] Artinya bahwa ras bukanlah faktor pembeda. Nasionalisme, zaman, dan bahasa juga tidak dapat dijadikan sebagai penyebab keunggulan sebagian masyarakat atau individu atas masyarakat atau individu lainnya. Hadits di atas menjelaskan tentang kesetaraan manusia meski memiliki cirri-ciri fisik yang berbeda; Tuhan mereka satu, tempat kembali mereka satu, dan begitu pula dengan ganjaran dan sanksi yang akan diterimanya.
Adapun berkenaan dengan sisi internal manusia, boleh jadi ada sedikit perbedaan antara struktur organ tubuh pria dan wanita, namun pada akhirnya perbedaan tersebut hilang. Jika di sana ada perbedaan dalam hal sarana berpikir (otak), maka perbedaan tersebut bukanlah sebuah bukti bahwa keduanya berbeda dalam keutamaan yang secara potensial dapat diperolehnya. Untuk mencapai kesempurnaan, terdapat media pada otak yang dibutuhkan pria. Begitu pula untuk memperoleh kesempurnaan kemanusiaan, juga telah tersedia media pada otak wanita.
Jika seseorang mengkaji keluhuran jiwa dan mengaitkannya dengan komponen-komponen fisiknya, lantas ia dapat membuktikan bahwa kesempurnaan itu haruslah mencakup fungsi otaknya, maka pada saat itulah baru dia boleh mengklaim bahwa dilihat dari adanya perbedaan dalam alat berpikir maka terdapat perbedaan sarana perolehan kesempurnaan antara pria dan wanita. Tentu ada perbedaan dalam struktur otak pria dan wanita, namun apakah seluruh kemuliaan jiwa dan kesempurnaan ruh, tolok ukurnya adalah otak? Ini perlu penelitian secara khusus. Sebagaimana diketahui bahwa kemungkinan persentase penerimaan nasihat bagi wanita lebih tinggi dari pria, begitu pula dalam pemamfaatan potensi hati guna mendekatkan diri kepada Allah. Sulit untuk dapat menentukan adanya perbedaan antara keduanya, sehingga dapat dikatakan bahwa pria lebih unggul daripada wanita atau sebaliknya.
Jika permasalahan gender tidak melahirkan perbedaan secara eksternal, maka kita tidak dapat membedakan antara kedua jenis tersebut. Imam Ali As pernah berkata bahwa keturunan Nabi Ishak As dan Nabi Ismail As adalah sama, tidak ada perbedaan di antara kedua keturunan tersebut. Suatu saat salah seorang dari mereka datang kepada Imam Ali bin Abi Thalib As dan berkata; “Berikan kepadaku pemberian yang banyak!” Lalu Imam Ali As mengambil segenggam tanah dan berkata kepadanya; “Sesungguhnya seluruh manusia berasal dari tanah, dan pada unsur tanah tidak ada keunggulan salah satu unsur atas yang lainnya.” Apalagi, bahwa faktor yang paling menentukan dari pembahasan ini adalah ruh, bukan dengan jasad atau faktor eksternal, sehingga jelas kesalahan orang-orang yang menyatakan adanya kesetaraan atau perbedaan antara pria dan wanita secara fisik. Mereka mengemukakan bukti-bukti material, padahal pembahasannya bukan pada materi atau jasad, namun pada ruh yang tidak berhubungan sedikitpun dengan permasalahan gender. Oleh karena itu, baik berdasarkan teori Plato atau berdasarkan teori Aristoteles atau berdasarkan teori filsafat transendental (al-hikmah al-muta’aliyah), ruh pria dan wanita tidak berbeda dari sisi ini[10]. Dalam kehidupan bermasyarakat tidak dapat dikatakan bahwa wanita tidak dapat memiliki kedudukan yang dapat dicapai oleh pria. Pernyataan semacam itu selamanya tidak dapat diterima.
PERBEDAAN AKAL PRIA DAN WANITA
Telah menjadi asumsi umum bahwa kualitas akal pria lebih tinggi daripada akal wanita. Pengalaman umat manusia dari dahulu hingga kini membuktikan hal itu. Allamah Thabathaba’i rh dalam tafsirnya al-Mizan juga mengemukakan teori ini. Namun ia menekankan bahwa kelebihan tersebut bukan ukuran bagi kemuliaan seseorang.
Yang mendasari lahirnya pendapat ini adalah bahwa, ‘akal’ adalah tolok ukur kesempurnaan manusia. Dan setiap manusia yang lebih ‘berakal’ adalah lebih dekat kepada kesempurnaan manusia, bahkan lebih dekat kepada Allah Swt.
Jika demikian maka konklusinya adalah, setiap orang yang tidak memiliki kesempurnaan ‘akal’, maka sedikit kesempatan yang akan diperolehnya untuk dapat mencapai kesempurnaan kemanusiaan, sehingga dalam upaya mencapai maqam kedekatan dengan Tuhan, dia akan lebih banyak memperoleh hambatan.
Namun konklusi tersebut tidak benar. Melihat bahwa kata "akal" memiliki banyak makna yang beragam, maka harus jelas "akal" mana yang menjadi parameter kesempurnaan manusia dan sarana pendekatan kepada Tuhan. Selain itu, di bagian manakah terdapat perbedaan antara wanita dan pria.
Sumber kekeliruan pada konklusi di atas adalah bahwa terma medium tidak terulang dalam struktur silogisme tersebut. Bila ia tidak terulang, maka pengambilan kesimpulan tidak dapat membuahkan sebuah konklusi yang sempurna. Artinya, meski terdapat pengulangan kata "akal" pada proposisi mayor dan minor, namun makna "akal" dalam kedua premis tersebut berbeda. Dengan kata lain, sekalipun pada proposisi minor dikaakan bahwa “Pria dan wanita berbeda akalnya”, dan proposisi mayor menyatakan bahwa “Akal adalah parameter kedekatan hamba kepada Allah”, sehingga konklusinya adalah, “Siapa yang akal nya lebih banyak, lebih dekat kepada Allah”, namun "akal" yang disebut dalam premis mayor tidak bermakna sama dengan yang tertera pada premis minor. Atau dengan kata lain, "akal" yang menyebabkan lahirnya perbedaan antara pria dan wanita bukanlah "akal" yang menyebabkan seorang hamba dekat kepada Tuhannya.
Kita harus membedakan arti kedua jenis "akal" tersebut di atas, sehingga dapat menjadi jelas bahwa tidak ada terma medium pada proposisi minor dan mayor. Pada akhirnya kita dapat pastikan bahwa konklusi dari pernyataan di atas tidak sempurna, bahwa pria lebih mulia daripada wanita, karena "akal" yang membedakan antara wanita dan pria adalah "akal" sosial, yaitu soal bagaimana dia mengelola permasalahan ilmu pengetahuan, politik, ekonomi dan sebagainya.
Seandainya benar bahwa "akal" pria lebih baik daripada akal wanita dalam hal-hal yang berkaitan dengan pengetahuan dan tugas itu, sementara untuk menemukan benang merah dalam permasalahan ini bukanlah hal yang mudah, lalu apakah "akal" yang dapat membuat seseorang dekat kepada Allah Swt adalah "akal" yang membedakan antara pria dan wanita dalam hal tugas-tugas keduniaan? Apakah setiap orang yang lebih baik dalam memahami masalah-masalah fisika, kedokteran, olah raga dan lain-lainnya lebih dekat kepada Allah? Apakah "akal" tersebut sebagai penyebab dekatnya seseorang kepada Allah atau akal yang dapat mengantarkan seseorang menyembah Tuhan dan memperoleh surga-Nya?
Akal yang menyebabkan seseorang dekat kepada Allah –dan setiap manusia dapat memanfaatkannya secara maksimal agar ia lebih dekat kepada Allah- adalah akal yang disebutkan dalam sebuah hadits popular yaitu sebagai “Sesuatu yang dengannya Tuhan Yang Maha Pengasih disembah, dan dengannya diusahakan surga” (Ma ‘ubida bihi ar-Rahman wa uktusiba bihi al-Jinan).
Itulah akal yang sesuai dengan sabda Rasulullah Saw, di mana dijelaskan bahwa orang yang berakal, adalah yang dengan kekuatannya ( kekuatan akal) dapat mengikat (ya’qilu) tabiat dan nafsunya. Kata akal berasal dari kata aqala yang artinya mengikat. ‘Iqal adalah tali yang diikatkan pada lutut keledai liar agar dia tidak dapat menyepak dan pergi dari kandangnya.[11] Rasulullah Saw pernah berkata kepada salah seorang sahabatnya yang masuk mesjid tanpa mengikat untanya. “Ikatlah unta itu, baru tawakkallah kepada Allah” I'qilha wa tawakkal.[12]
Makna hadits di atas bukan berarti tahanlah, tetapi ikatlah, kemudian tawakkal. Yakni lakukan sesuatu yang seharusnya, kemudian bertawakkal-lah kepada Alah di luar sesuatu yang menjadi kemampuanmu. Dalam riwayat lain dijelaskan bahwa sebab penamaan akal adalah karena akal manusia dapat menahan berbagai macam tabiat dan kecenderungan serta dapat mengikat (ya’qilu) kebodohan dan nafsu yang haram. Bila manusia dapat mengikat tabiat-tabiat tersebut dengan akalnya secara baik, yakni menciptakan keseimbangan antara tabiat-tabiatnya, maka dia akan menjadi manusia mulia.
Oleh sebab itu, sesuatu yang dapat membuat seseorang dekat kepada Allah adalah akal yang dapat mengantarkan seseorang menyembah Tuhan dan memperoleh surga-Nya. Dan akal yang pria lebih dapat memilikinya lebih banyak dari wanita adalah akal sosial, politik, ekonomi dan hal-hal lain yang berkaitan dengan tugas praktis yang bersifat keduniaan. Jika seseorang lebih berakal dalam masalah politik atau dalam tugas praktis keseharian, itu bukanlah bukti bahwa ia lebih dekat kepada Allah Swt. Bahkan boleh jadi kecerdasan politik dan keilmuan dapat membawa pemiliknya ke dalam neraka. Dan terkadang pria lebih tahu dari wanita dalam ilmu pengetahuan, namun dia tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan tabiatnya.[]
[1] . Forma (as-Shurah), yaitu tampilan khusus sesuatu, seperti gambar (tampilan) manusia, pohon dan sebagainya.
[2] . Genus (al-Jins), yakni universalia yang lebih luas dari spesies, seperti “hewan” yang berlaku atas manusia, Iwan dan Kuda.
[3] . as- Shad, 71-72.
[4] . Q.S: al-Mu'minun: 14.
[5] . az-Zumar; 42.
[6] . al-Imran; 169.
[7] . al-Baqarah; 154.
[8] . al-Mukminun; 100.
[9] . Ma’alim al-Hukumah; 404.
[10] . Durus fi al-hikmah al-muta’aliyah, Allamah Kamal Haedari, as-safar al-awwal; 76
[11] . Majma al-Bahrain, Bab. ‘Ain
[12] . Nahjul Fashahah, hadits 389.