Back To Index

Qur'an -->                                                                        Tafsir Tematis

     

 AYAT IMAMAH

              Dalam dunia Syi’ah, Imamah diletakkan pada pembahasan teologis, walaupun sebagian ulama memulai pembahasan Imamah dari bab-bab fiqh. Ahlu Sunnah sendiri tidak memberikan porsi lebih dalam membahas masalah ini. Al-ghazali misalnya, mengatakan bahwa Imamah bukanlah pembahasan penting dalam akidah, tapi hanya bagian dari pembahasan-pembahasan fiqh saja!

             Terlepas dari polemik teologis atau fiqh-nya Imamah (untuk selanjutnya akan ditulis dengan IM), adakah pembahasan dasar IM dalam ayat-ayat al-Qur’an? apakah yang menjadi syarat-syaratnya? Dan siapa sajakah mereka yang bisa sampai pada maqam ini?

             Ada banyak ayat al-Qur’an yang menjawab semua pertanyaan di atas. Salah satunya adalah ayat 124 surah al-Baqarah:

“ Dan (ingatlah) ketika Ibraim di uji[1] Tuhannya dengan perintah dan larangan (kalimat) lalu ia menunaikannya. Allah berfirman: Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu Imam bagi seluruh manusia. Ibrahim berkata: dan dari keturunanku. Allah berfirman: Janji-Ku tidak melingkupi orang-orang yang zalim.”

 

            Dari ayat di atas, beberapa point dapat ditarik antara lain:

 

1. Imamah dan Nubuwah

           Dengan memperhatikan maqam IM Ibrahim as. diperoleh pada akhir-akhir hidupnya, ini menunjukkan bahwa IM lebih akhir dari kenabian dan kerasulan atau maqam-maqam lain yang dicapai kekasih Tuhan ini, sekaligus menunjukkan bahwa IM sebuah maqam yang lain dari kedua maqam kenabian dan kerasulan. Dengan beberapa alasan sebagai berikut:

 

  1. Permintaan Ibrahim as. maqam  untuk keturunannya, sedangkan ia mendapat mempunyai keturunan pada usianya yang lanjut, sebagaimana yang ia katakan: “Puji syukur bagi Allah swt. Yang telah memberikan aku Ismail dan Ishaq pada usiaku yang lanjut. Sesungguhnya Tuhanku maha mendengar do’a)[2]

 Ini sekali lagi menunjukkan dengan jelas, IM dicapai pada akhir-akhir usianya dan bahwa IM maqam lain selain kenabian dan kerasulan.

                     

  1. IM dicapai Ibrahim as. setelah melalui cobaan dan ujian (dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Tuhannya..) dan perintah penyembelihan itu terjadi pada usia lanjutnya atau setelah menjadi Rasul. Ini juga menjadi bukti bahwa kenabian terjadi sebelum IM dan keduan adalah maqam yang berbeda.

 

  1. Hadits dari Abu abdillah (Imam Shadiq as.): “Ibrahim as. adalah seorang Nabi dan bukan seorang Imam sampai Allah swt. Berfirman: “sesungguhnya aku jadikan kamu Imam untuk seluruh manusia. Ibrahim berkata, dan dari keturunanku. Allah swt. Berfirman: Janjiku ini, tidak diterima oleh orang-orang zalim” . Siapa yang menyembah berhala tidak bisa menjadi Imam.[3]

 

  1. Sebuah hadits dari Abu abdillah (Imam Shadiq as.): “Allah tabaraka wa ta’ala mengambil Ibrahim as. sebagai hamba sebelum mengambilnya sebagai nabi, dan sesungguhnya Ia mengambilnya sebagai nabi sebelum mengambilnya sebagai rasul, mengambilnya sebagai rasul sebelum mengambilnya sebagai kekasih dan Allah swt. Mengambilnya sebagai sebagai kekasih sebelum mengambilnya sebagai seorang Imam. Setelah semua syarat-syarat itu sempurna, Allah swt. Berfirman kepadanya: “Sesungguhnya aku menjadikanmu Imam untuk seluruh manusia[4]

 

Dari semua bukti di atas, jelaslah bagi kita bahwa IM adalah sebuah maqam yang berbeda dari kenabian dan kerasulan, tapi IM adalah maqam yang lebih tinggi dari keduanya, yang Ibrahim as. peroleh pada usianya yang lanjut dan setelah dengan sabar dan penuh penyerahan berhasil melalui ujian dan cobaan.

 

 2. Kontinuitas Imamah

             Point penting selain yang di sebut di atas, adalah bahwa IM tidak berhenti atau terbatas padanya tok, tapi terus berlanjut dan tersambung pada keturanan setelahnya sampai kiamat. Beberapa dalil dapat di urai:

 

  1. Ketika Ibrahim as. meminta juga untuk keturunannya, jawaban Allah awt. Tidakan menegasikan seluruh keturunannya secara mutlak, tapi hanya menegaskan bahwa, janji-Nya (IM) tidak akan diberikan kepada keturunannya yang zalim.

 

Dan Allah swt. membuktikan janji-Nya dengan menjadikan Imam dari keturunannya, sebagaimana firman-Nya: “Dan telah kami berikan  kepadanya (Ibrahim) Ishak dan Ya’kub, sebagai suatu anugerah. Dan masing-masing kami jadikan orang-orang yang shaleh. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai Imam yang memberi petunjuk dengan perintah kami dan telah kami wahyukan kepada mereka mengerjakan shalat, menunaikan zakat dan hanya kepada kamilah mereka selalu menyembah”[5]

  1. Firman Allah swt. “dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapak dan kaumnya; sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah, selain yang telah menciptakan aku. Dan Ibrahim menjadikan kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali pada kalimat itu”

 

Para ahli tafsir sepakat bahwa yang dimaksud kalimat yang kekal pada keturunan Ibrahim itu adalah kalimat tauhid. Jadi, keberlepasan tanggung jawab dari kaumnya dan isyarat pada yang telah menciptakannya menjadi bukti penanfsiran kalimat adalah kalimat tauhid (la Ilaha illa Allah).[6]

 

Dan firman Allah swt. “La Allahum Yarjiun” yakni kembalinya mereka (orang-orang musyrik) kepada Allah swt. oleh dakwah orang-orang yang mentauhidkan-Nya.[7]

 

Pada pembahasan selanjutnya, akan dijelaskan, maksiat merupakan bentuk bahkan tingkatan dari syirik, dan tauhid yang dikekalkan Allah swt. pada keturunan Ibrahim as. pastilah merupakan tauhid hakiki, yang selamanya tidak tercemari oleh syirik.

 

  1. Firman Allah swt. “Dan jadikanlah untukku dari umat-umat yang akan datang (penyerut) yang jujur”.[8]

 

 Ayat ini semakna dengan ayat sebelumnya. Para mufassir menafsirkannya sebagai do’a supaya Allah swt. mengutus untuk orang-orang setelahnya (Ibrahim as.) yang meneruskan dakwahnya, dan mengajak manusia kepada jalannya yaitu mentauhidkan Allah swt.[9]

 

Allah swt. menjawab do’a Ibrahim as. Dia berfirman: “Setelah ia (Ibrahim) menjauh dari mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, kami anugerahkan kepadanya Ishak dan Ya’kub. Dan kami jadikan masing-masing dari mereka sebagai nabi”. Di ayat selanjutnya “dan kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat kami dab kami jadikan mereka  buah tutur yang baik lagi tinggi”.[10]  

 

Banyak nash dan riwayat dari para maksumin sebagai tafsiran dari kekalnya IM dalam keturunan nabi Ibrahim as. di antaranya:

 

1.      Hadits Muktabar dari Hisyam bin Salim, ia berkata: “Aku berkata kepada Imam  Shadiq as. siapakah yang lebih utama (untuk menjadi Imam pertama kali) al-Hasan atau al-Husain? Imam bersabda: “al-Hasan lebih utama”. Aku berkata: bagaimana bisa Imamah setelah al-Husain berkelanjutan pada keturunannya dan bukan dari anak-anak al-Hasan as.? Dia pun bersabda: “Allah swt. menyukai yang ketetapan yang terjadi antara Musa dan Harun berlaku pada al-Hasan dan al-Husain. Tidakkah kamu lihat, bahwa keduanya adalah mitra dalam kenabian sebagaimana al-Hasan dan al-Husain mitra dalam Imamah. Dan bahwa Allah swt. menjadikan silsilah kenabian pada garis keturunan Harun dan bukan dari keturunan Musa, walaupun Musa lebih utama dari Harun?!.”…..[11]

 

2.      Dari abu Hamzah al-Tsumali, dari Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib as. bersabda:  “untuk kami turun ayat ini (wa ja’alna kalimatan baqiyatan...) Imamah pada keturunan al-Husain bin Ali bin Abi Thalib as. sampai hari kiamat”[12]

 

3.      Hadits dari abi Bashir dan Abu Ja’far as. tentang firman Allah swt. (wa ja’alna kalimatan baqiyatan...) “sesungguhnya ayat ini tentang al-Husain as. yang berpindah dari anak ke anak dan tidak kepada saudara atau paman”[13]

 

4.      Dari Abu Hurairah, berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah saww. Tentang firman Allah (wa ja’alna kalimatan baqiyatan...) Rasul bersabda: “Allah menjadikan Imamah pada keturunan al-Husain, keluar dari sulbinya sembilan orang dari para Imam, di antaranya, al-Mahdi umat ini…”[14]

 

Dan masih banyak riwayat penafsir ayat di atas, yang tidak mungkin disebutkan semuanya di sini. Jelasnya, IM  tidak terhenti pada Ibrahim as. tok, tapi terus berlanjut pada keturunannya sampai kiamat, sebagaimana disebutkan beberapa ayat serta riwayat sebelumnya.

 

 

3. Imamah Tidak Bagi Orang-orang Zalim

 

            Allah swt. menjelaskan sifat penghalang bagi sesorang untuk menerima janji Tuhan  (Imamah) dari keturunan nabi Ibrahim as. yaitu zalim. Bila memperhatikan ayat-ayat al-Qur’an, maka kita akan mendapatkan macam-macam sifat pada keturunan Ibrahim as.

 

            Al-Qur’an mensifati Ibrahim as. dengan di antara orang-orang yang berbuat baik (al-muhsinin) sedangkan keturunannya terbagi dua; yang berbuat baik dan yang berbuat zalim. Allah swt. berfirman: “Keselamatan atas Ibrahim, demikianlah kami memberikan balasan bagi orang-orang yang berbuat baik…..dan kami limpahkan keberkatan atasnya dan  Ishak. Dan di antara anak-cucunya (keturunannya) ada yang berbuat baik ada pula yang berbuat zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata.”[15] Jadi, ayat ini menjelaskan keturunan nabi Ibrahim as. ada yang berbuat baik serta berbuat zalim.

 

            Pada bagian lain, al-qur’an menjelaskan sifat keturunannya dengan yang mendapat petunjuk dan yang fasik. Allah swt. berfirman: “Dan telah kami utus Nuh dan Ibrahim dan kami jadikan pada keturunan keduanya kenabian dan al-Kitab. Di antara mereka ada yang menerima petunjuk dan banyak di antara mereka yang fasik”[16]  Fasik adalah bentuk dari kezaliman, sebagaiman firman Allah swt. “Lalu orang-orang zalim mengganti perintah Allah  dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan  kepada mereka. Sebab itu kami timpakan atas orang-orang yang zalim itu siksa dari langit, karena mereka berbuat fasik.”[17]

 

            Demikanlah kita temukan dalam penjelasan-penjelasan al-Qur’an tentang sifat-sifat keturunan Ibrahim as. Al-Imamah adalah sebuah maqam yang dicapai selain orang-orang yang zalim dari keturunan khalil Tuhan pengatur alam dan jalur kehidupan ini. IM tidak terhenti pada Ibrahim as. saja, tapi merupakan maqam yang terus berlanjut tapi bukan bagi mereka yang berbuat zalim dari keturunanannya.

 

 

4. Imam Haruslah Orang Yang Maksum

 

            Pada kenyataannya, seteluruh kemaksiatan kembali kepada sifat musyrik. Syirik adalah menyekutukan Dia dengan sesuatu selain-Nya, baik dalam ketaatan atau mengikuti, sebagaimana firman Allah swt.: “Bukanlah sudah kami perintahkan kepadamu wahai bani Adam, janganlah kalian menyembah syaitan..”[18] “Maka sudah  kamu melihatkah orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya…”[19]            lihat juga surah al-A’raf ayat 19 dan at-Taubah ayat 31, dimana orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak menyembah atau menjadikan ruhaniawan dan pendeta mereka sebagai tuhan, tapi mereka mengikutinya dalam perbuatan-perbuatan yang tidak diridhai Allah swt.

              

            Dari sini, kita mengetahui bahwa kalaulah bukan kerena ketaatan manusia kepada syaitan yaitu hawa nafsunya dan karena kebodohan dan semacamnya, niscaya manusia tidak akan terjerumus untuk bermaksiat kepada Tuhan. Kemaksiatan adalah kemusyrikan dan ketaatan adalah ibadah.

 

            Jadi, hakikat iman adalah tidak mengahadirkan selain Allah swt. pada setiap perbuatan, sedangkan syirik adalah hubungan seseorang dengan selain-Nya yang tidak memberikan mamfaat dan kekecelakaan. Keimanan dan kemusyrikan tingkat-tingkat pada setiap manusia, tidak heran bila kadang kita menemukan orang-orang yang perbuatannya berbeda dengan keyakinannya. Ini adalah syirik yang jelas dalam pandangan.

 

            Ada syirik lain selain di atas, yakni syirik khafi (syirik yang tersembunyi). Imam al-Askari as. bersabda: ”Sesungguhnya syirik pada manusia lebih tersembunyi dari pada seekor melata di atas batu hitam di tengah malam gelap..”[20]

 

            Hadits-hadits semakna di atas banyak terdapat riwayat-riwayat maksumin as. yang kiranya beberapa mencukupi untuk kita sebutkan di sini:

 

1.  Dari Imam Baqir as. tentang firman Allah swt. “wa ma yu’minu  aktsruhum billahi illa wahum musyrikun” Imam bersabda: “Syirik pada ketaatan, bukan syirik pada peribadatan. Kemaksiatan yang mereka lakukan adalah syirik ketaatan, mereka menaati syatan di dalamnya, maka mereka menyekutukan Allah dalam ketaatan kepada selain-Nya, dan bukan kemusyrikan dalam ibadah yakni dengan menyembah selain Allah”[21]     

 

2.  Dari abi Bashir dari Abu Abdillah as. berkata, aku berkata kepada Imam tentang “Dan mereka menjadikan ruhaniawan dan pendeta mereka sebagai tuhan selain Allah swt” Imam bersabda: “Sungguh, demi Allah mereka (ruhaniawan dan pendeta) tidak mengajak untuk menyembah diri mereka, selainnya ruhaniawan dan pendeta mengajak mereka untuk melakukan itu, mereka tidak akan mendengarkannya. Tapi mereka menghalalkan setiap yang haram dari perbuatan mereka (ruhaniawan dan pendeta), maka sesungguhnya mereka menyembahnya tanpa mereka sadari”[22]

 

            Dan lebih banyak lagi yang tidak bisa disebutkan di sini, riwayat-riwayat Ahlul Bait yang menjadikan setiap kemaksiatan kepada Allah swt. sebagai beribadah kepada syaitan yang mana itu merupakan tingkatan dari syirik. Berdasarkan semuanya, setiap kemaksitan, setiap melenceng dari ketaatan kepada-Nya, dan setiap mengikuti hawa nafsu di dalam setiap yang tidak diridhai-Nya adalah zalim kepada diri, dan zalim adalah sifat penghalang seseorang untuk sampai kepada maqam Imamah, karena ia telah keluar dari ketinggian ketaatan kepada kerendahan kemaksiatan, la yanalu ‘ahdi az-zalimin.

 

            Zamakhsyari dalam tafsirnya berkata: Allah swt. seakan berkata “siapa yang zalim di antara keturunanmu, tidak akan menerima maqam kepemimpinanku dan janjiku pada mereka untuk menjadi Imam, tetapi hanya orang-orang adil dan lepas dari kezaliman saja di antara mereka yang akan menerimanya”[23]. Zamakhsyari berkata, ini sebab yang menjadi dalil akan orang-orang fasik tidak berhak untuk maqam IM.

 

            Allamah Thabathai dalam tafsir ayat ini berkata: Sesungguhnya makna Imamah ini, dengan segala kemuliaan dan keagungannya tidak akan di tanggung oleh selain orang-orang yang suci diri secara dzat, bagi mereka yang walau masih berpotensi berbuat zalim dan lalim, yang masih membutuhkan petunjuk dari orang lain seperti firman Allah swt. “siapakah yang lebih utama untuk diikuti, orang-orang yang memberi petunjuk kepada kebenaran atau orang-orang yang tidak mendapat petunjuk kecuali dari yang lain..” Allah swt. membedakan orang-orang yang memberi petunjuk dan orang-orang yang tidak mendapat petunjuk selain dari yang lain. Dari pembedaan ini, menunjukkan bahwa orang-orang yang memberi petunjuk kepada kebenaran adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk melalui diri mereka sendiri, dan yang mendapat petunjuk dari selain dirinya tidak akan menjadi pemberi petunjuk kepada kebenaran, sama sekali![24]

 

            Dalam menafsirkan ayat di atas, al-Fakhru al-Razi berkata: Ayat yang menunjukkan kemaksuman (keterjagaan dari dosa dan kesalahan) dapat diliahat dari dua sisi: Pertama: al-‘Ahd dalam ayat ini adalah Imamah dan tanpa keraguan, bahwa setiap nabi adalah imam, karena imam adalah yang menyempurnakannya (kenabian) dan nabi adalah manusia paling utama. Bila ayat menunjukkan seorang Imam tidak boleh seorang fasik, maka ini menunjukkan bahwa Rasul tidak boleh seorang fasik yang melakukan dosa apalgi maksiat.

 

            Kedua: Allah berfirman “la yanalu ‘ahdi az-zalimin” bila ‘ahd di sini adalah kenabian, maka tidak bisa dicapai oleh seorang zalim pun. Apabila maksudnya adalah Imamah maka, setiap nabi adalah imam yang dengan itu ia menyempurnakan kenabiannya. Setiap yang fasik zalim terhadap dirinya sendiri dan tidak mungkin maqam kenabian akan dicapai oleh orang-orang yang fasik. Wallahu a’lam.[25]

 

            Di tempat lain Fakhru Razi berkata; “seperti yang telah kami jelaskan, yakni yang dimaksud dengan Imamah dari ayat ini adalah Kenabian, siapa saja kafir meski sekedipan mata, maka tidak berhak untuk maqam kenabian. Karena ayat ini secara jelas dan samar menafikan bagi orang-orang zalim untuk menjadi imam dan hakim. Adapun orang-orang Syi’ah, mereka beragumentasi dengan ayat ini untuk membenarkan pendapatnya tentang wajibnya kemaksuman dzahiran wa bathinan. Adapun menurut kami, sesuai ayat tersebut, kami melepaskan kemungkinan batin ayat dan mengambil keadilan yang dzahir sebagai lebih benar.[26]

           

            Tersisa untuk Fakhru Razi sebuah pertanyaan; kenapa ia meninggalkan pengakuan keadilan dzahir dan batin ayat ini dan mengambil yang dzahir saja? Qul hatu burhanakum inkuntum shadiqin! Sedang dia sendiri mengakui bahwa ayat ini menyangkut kemaksuman para Imam? Satuktabu syahadatukum wa yus’alun!

 

            Walhasil, semua yang terdahulu menunjukkan dengan jelas ketidak mungkinan orang-orang zalim mencapai dan menyandang ‘janji’  Tuhan sedang ia melakukan dosa, apapun bentuknya pada Allah swt.

           

 


[1] . Ujian yang diberikan kepada Ibraham as. di antaranya adalah membangun Ka’bah, membersihkannya dari kemusyrikan, mengorbankan anaknya Ismail as. menghadapi Raja Namrudz dan lain-lain.

[2] . Ibrahim : 40

[3] . al-Kafi, Jil. 1:174

[4] . Ibid, Jil. 1:174

[5] . al-Anbiya’ :72-73

[6] . al-Mizan, Jil.18:96, Tafsir al-Fakhru ar-Razi, 28:208

[7] . Ibid

[8] . as-Syua’ra, ayat 84

[9] . al-Mizan, Jil.1:285, al-Fakhru ar-Razi, Jil.24:147

[10] . Maryam, 49-50

[11] . Bihar al-Anwar, Jil. 25:249

[12] . Ibid

[13] . Ibid, Hal.153

[14] . Kifayat al-Atsar: 86

[15] . as-Shaffat, 109-110-113

[16] . al-Hadid, 26

[17] . al-Baqarah, 59

[18] . Yasin, 60

[19] . al-Jatsiyah, 23

[20] . al-Tusi, Kitab al-Ghaibah, 207

[21] . Bihar al-Anwar, 9:295

[22] . al-Kafi, 1:53

[23] . Zamakhsyari, al-Kasysyaf, 1:183

[24] . al-Mizan, 1:273

[25] . al-Fakhru ar-Razi, 4:43

[26] . Ibid. 4:42